
SERANG – Guna memperkuat pemahaman sejarah lokal dan menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya, siswa-siswi SMPIT Insan Cita Serang melaksanakan kunjungan studi ke Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, pada Selasa (03/02/2026).
Kunjungan ke kawasan yang menjadi saksi bisu kejayaan Kesultanan Banten ini merupakan bagian dari agenda pembelajaran luar kelas, di mana siswa diajak untuk melihat langsung bukti-bukti fisik sejarah yang selama ini hanya mereka pelajari melalui buku teks.
Rombongan siswa memulai kegiatan dengan mengelilingi ruang pameran museum. Di tempat ini, mereka disuguhi berbagai koleksi artefak bersejarah yang ditemukan di kawasan Banten Lama.
Dengan didampingi oleh guru dan pemandu museum, para siswa mengamati dengan seksama berbagai benda peninggalan masa lalu, seperti:
Keramik Asing: Berbagai jenis keramik dari Tiongkok, Jepang, dan Eropa yang membuktikan bahwa Banten dahulu adalah kota pelabuhan internasional yang ramai.
Mata Uang Kuno: Koleksi koin (numismatika) yang pernah berlaku sebagai alat tukar di masa Kesultanan.
Senjata Tradisional: Termasuk melihat replika dan sisa-sisa meriam yang menjadi simbol kekuatan pertahanan maritim Banten.
Gerabah dan Pipa Terakota: Sisa-sisa peralatan rumah tangga dan saluran air yang menunjukkan kemajuan teknologi tata kota masyarakat Banten masa lampau.
"Melihat langsung pecahan keramik dan sisa bangunan keraton membuat saya sadar bahwa nenek moyang kita di Banten memiliki peradaban yang sangat maju dan disegani dunia," ujar Ferdi salah satu siswa sambil mencatat penjelasan pemandu.
Tidak hanya berada di dalam gedung museum, para siswa juga diajak meninjau area situs Keraton Surosowan yang terletak tepat di depan museum. Di sini, siswa belajar membayangkan kemegahan istana Sultan Banten melalui sisa-sisa dinding bata merah dan kolam pemandian (Roro Denok) yang masih tersisa.
Guru Sejarah SMPIT Insan Cita Serang menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menanamkan semangat "Jasmerah" (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah) kepada generasi muda.
"Kami ingin siswa tidak kehilangan akar identitasnya. Dengan memahami sejarah Banten yang gemilang, diharapkan tumbuh rasa bangga dan motivasi dalam diri siswa untuk membangun Banten di masa depan," ungkapnya.
Kunjungan ini dinilai sangat efektif sebagai metode pembelajaran kontekstual. Siswa dapat menghubungkan materi sejarah Islam di Nusantara dengan bukti fisik yang ada di depan mata. Diskusi interaktif pun terjadi saat siswa bertanya mengenai penyebab runtuhnya keraton dan bagaimana kehidupan sosial masyarakat Banten pada abad ke-16 dan 17.
Kegiatan studi sejarah ini diakhiri dengan salat berjamaah di Masjid Agung Banten yang ikonik dengan menaranya, menyempurnakan pengalaman spiritual dan historis para siswa dalam satu hari penuh.
Destinasi: Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama & Situs Keraton Surosowan.
Materi: Sejarah Kesultanan Banten, Perdagangan Internasional Jalur Rempah, dan Arsitektur Klasik.
Objek Studi: Artefak keramik, mata uang kuno, sisa bangunan keraton.
Tujuan: Membangun identitas budaya dan kesadaran sejarah pada siswa.

