
SERANG – Dalam upaya menanamkan kecintaan terhadap kearifan lokal sejak dini, siswa-siswi SMPIT Insan Cita Serang melaksanakan kunjungan budaya ke sentra Batik Banten pada hari Selasa (03/02/2026). Kegiatan ini tidak hanya sebatas observasi, namun para siswa terjun langsung mempraktikkan seni membatik tulis.
Program ini dirancang sekolah sebagai sarana edukasi di luar kelas untuk memperkenalkan kekayaan seni rupa daerah Banten yang memiliki nilai historis tinggi.
Suasana antusias terlihat jelas saat para siswa mulai memegang canting (alat untuk membatik). Di bawah bimbingan para pengrajin profesional Batik Banten, siswa diajarkan tahapan-tahapan krusial dalam membatik, mulai dari mengambil lilin panas (malam) hingga menggoreskannya ke atas kain mori sesuai pola yang tersedia.
Kegiatan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para siswa. Mereka belajar bahwa membatik membutuhkan:
Kesabaran: Menunggu lilin mencapai suhu yang tepat.
Ketelatenan: Menggoreskan lilin agar tidak menetes sembarangan (bleber).
Fokus: Mengikuti garis motif yang rumit.
"Ternyata membatik itu tidak mudah, tangan harus stabil saat memegang canting agar hasilnya rapi. Tapi sangat seru karena ini pengalaman pertama saya membuat karya seni tradisional," ungkap salah satu siswa peserta kegiatan dengan wajah sumringah.
Selain praktik teknis, kunjungan ini juga sarat akan materi sejarah. Pemandu dari Batik Banten menjelaskan bahwa Batik Banten memiliki ciri khas yang berbeda dari batik daerah lain. Motif-motif Batik Banten diambil dari benda-benda sejarah peninggalan Kesultanan Banten (artefak), seperti gerabah dan keramik yang ditemukan saat ekskavasi arkeolog.
Para siswa diperkenalkan dengan berbagai nama motif khas, seperti:
Motif Datulaya: Bermakna tempat tinggal pangeran.
Motif Kapurban: Nama gelar yang diberikan kepada Pangeran Purba.
Motif Pamaranggen: Tempat pengrajin keris.
Penjelasan ini membuka wawasan siswa bahwa batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan lembaran kain yang bercerita tentang sejarah kejayaan Banten di masa lalu.
Pihak sekolah SMPIT Insan Cita Serang berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan karakter positif pada diri siswa. Seni membatik dinilai efektif untuk melatih ketenangan emosional dan menghargai proses.
"Kami ingin anak-anak tidak hanya menjadi konsumen budaya, tetapi juga pelestari. Dengan menyentuh alatnya langsung, mencium aroma malam, dan melihat prosesnya, rasa memiliki terhadap budaya Banten akan tumbuh lebih kuat dibandingkan hanya melihat dari buku," ujar perwakilan guru pendamping.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan proses pewarnaan dan peluruhan lilin (nglorod). Kain batik hasil karya tangan para siswa tersebut nantinya dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan fisik atas usaha dan kreativitas mereka.
Kunjungan ke Batik Banten ini melengkapi agenda pendidikan karakter SMPIT Insan Cita Serang, membuktikan bahwa belajar sejarah dan seni bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan interaktif.

