Digital Marketing Agency SEO Agency Social Media Agency Pesantren Terpadu Insan Cita Serang - Detail Berita
Ramadan Bersama Palestina di Insan Cita Serang: Doa, Solidaritas dan Donasi Mengalir untuk Baitul Maqdis

Suasana malam Ramadan terasa berbeda di Masjid Al Iman, Pesantren Terpadu Insan Cita Serang, pada Selasa, 03 Maret 2026. Usai salat isya dan tarawih berjemaah, jemaah larut dalam keheningan yang khusyuk, bukan hanya karena lantunan ayat-ayat suci, tetapi juga karena kehadiran tamu istimewa dari tanah para nabi, Syaikh Zaid Hasan Abeed.

Kegiatan bertajuk Ramadan Bersama Palestina ini terselenggara atas kerja sama Pesantren Terpadu Insan Cita Serang dengan Komisi Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP). Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Zaid tidak hanya bertindak sebagai imam salat, tetapi juga menyampaikan tausiyah mendalam tentang Palestina, khususnya Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha.

Bahagia di Tengah Para Penghafal Al-Qur’an

Mengawali penyampaian materinya, Syaikh Zaid mengungkapkan rasa bahagianya bisa berada di tengah para santri penghafal Al-Qur’an. Beliau memuji lantunan imam salat Isya yang merupakan santri Insan Cita Serang, sekaligus menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan untuk salat tarawih dan berbincang bersama jemaah di malam Ramadan yang penuh berkah ini.

Keutamaan Baitul Maqdis

Dalam tausiyahnya, Syaikh Zaid mengutip hadis tentang keutamaan Baitul Maqdis. 
"Tidak boleh (tidak disunnahkan) melakukan perjalanan jauh kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Nabawi), dan Masjidil Aqsa." (HR. Bukhari no. 1189 & Muslim no. 1397). 

Rasul juga memerintahkan umatnya untuk salat di sana. Ketika para sahabat bertanya apa yang bisa dilakukan jika tidak mampu datang ke Baitul Maqdis, Rasulullah ? menjawab: “Hadiahkanlah minyak untuk menyalakan lentera-lentera di Baitul Maqdis.” Sebuah pesan bahwa kontribusi sekecil apa pun tetap bernilai di sisi Allah.

Beliau kemudian menjelaskan kondisi Baitul Maqdis saat ini yang sangat memprihatinkan. Sebagai kiblat pertama umat Islam dan masjid suci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha terus mengalami penodaan dan pembatasan. Bahkan, untuk sekadar menunaikan salat di sana, umat Islam harus melalui berbagai syarat rumit dan izin dari pihak zionis. Beberapa hari terakhir, Baitul Maqdis bahkan ditutup dengan alasan konflik regional, sehingga umat Islam semakin terhalang untuk beribadah di tempat suci tersebut.

Syaikh Zaid juga meluruskan anggapan keliru yang sering beredar bahwa Masjidil Aqsha hanyalah bangunan berkubah emas. Padahal, kubah emas itu hanyalah salah satu bagian dari kompleks Baitul Maqdis yang luasnya mencapai sekitar 14 hektare dan di dalamnya terdapat beberapa masjid.

Gaza: Kota Perjuangan dan Keteguhan Iman

Tausiyah kemudian mengalir pada kondisi Palestina, khususnya Gaza, yang disebut sebagai kota perjuangan. Syaikh Zaid menyinggung peristiwa 7 Oktober 2023 yang dikenal sebagai Thufan Al-Aqsha, serta dampak besar yang ditimbulkannya. Gaza dibombardir, rumah-rumah hancur, dan ratusan ribu jiwa melayang akibat serangan zionis.

Dari tragedi itu, lahir istilah baru di Gaza: an-nazil wahid (satu-satunya yang selamat). Sebuah gambaran pilu tentang anak kecil yang hidup seorang diri karena seluruh anggota keluarganya wafat di tengah runtuhan rumah. Ribuan anak Palestina kini kehilangan orang tua, namun di tengah luka dan puing-puing bangunan, semangat ibadah mereka tidak padam. Banyak di antara mereka justru menjadi penghafal Al-Qur’an, menghafal ayat demi ayat di tengah reruntuhan bekas peperangan.

Berpihak pada Kebenaran

Mengutip ayat Al-Isra ayat 1 dan beberapa hadis, Syaikh Zaid menegaskan bahwa menyelamatkan Masjidil Aqsha adalah bagian dari peperangan antara yang haq dan yang batil. Dalam perjuangan ini, umat Islam tidak boleh bersikap netral. Harus ada keberpihakan yang jelas dalam membela Masjidil Aqsha dan Palestina.

Beliau mengajak jamaah untuk membayangkan kondisi warga Gaza: kehilangan keluarga, rumah hancur, dan seluruh kenikmatan dunia yang lenyap dalam sekejap. Lalu beliau mengajak hadirin untuk bersyukur atas nikmat yang masih dimiliki, sembari bertanya dengan jujur pada diri sendiri, jika kita berada di posisi mereka, mampukah kita bersabar?

Tiga Kewajiban Umat Islam

Di akhir tausiyah, Syaikh Zaid merumuskan tiga kewajiban umat Islam terhadap Palestina:
1. Mendoakan saudara-saudara di Palestina secara terus-menerus, karena merekalah yang saat ini menjaga Masjidil Aqsha atas nama seluruh umat Islam.
2. Membantu sesuai kemampuan, baik harta, pengaruh, maupun peran lainnya, jika kelak Allah memberikan kemampuan tersebut.
3. Mencari dan menyebarkan informasi yang benar tentang Palestina, agar dunia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Beliau menegaskan bahwa saudara-saudara di Palestina sedang menunggu sikap dan aksi nyata umat Islam di seluruh dunia.

Donasi untuk Palestina

Sebagai wujud kepedulian dan aksi nyata, Pesantren Terpadu Insan Cita Serang menyalurkan donasi sebesar Rp15.000.000 untuk rakyat Palestina melalui KNRP. Donasi ini menjadi simbol bahwa doa yang dipanjatkan di Masjid Al Iman tidak berhenti di lisan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.

Di malam ini, Ramadan tidak hanya menjadi bulan ibadah personal, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas umat. Dari Masjid Al Iman, doa, air mata, dan kepedulian mengalir menuju Baitul Maqdis dan saudara-saudara kita di Palestina. Semoga Allah menerima setiap doa dan langkah kecil ini sebagai bagian dari perjuangan memenangkan Masjidil Aqsha. Aamiin.