
SERANG – Dalam upaya menumbuhkan kesadaran lingkungan dan kepekaan sosial, para santri Pesantren Terpadu Insan Cita Serang mengadakan kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter berjudul "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita". Kegiatan edukasi ekologi yang diselenggarakan pada Sabtu, 23 Mei 2026 ini membuka ruang diskusi kritis di kalangan santri mengenai isu lingkungan dan kemanusiaan di tanah air.
Film dokumenter garapan jurnalis dan pembuat film Dandhy Dwi Laksono tersebut menyoroti isu deforestasi besar-besaran yang merenggut hingga 2,5 juta hektar hutan di Papua. Melalui layar sinema, para santri diajak melihat langsung realita hilangnya ruang hidup masyarakat adat yang direkam sebagai bentuk kolonialisme di era modern.
Lebih dari sekadar tontonan, kegiatan ini menjadi wadah pendidikan ekologi yang komprehensif. Melalui film tersebut, santri belajar memahami prinsip keseimbangan ekosistem—bahwa alam dan manusia berada dalam satu jaring kehidupan yang saling bergantung. Hutan dipahami bukan sekadar komoditas, melainkan kontribusi vital alam dalam menyuplai oksigen, menyerap emisi karbon, menjaga kelestarian atmosfer, dan memitigasi dampak buruk perubahan iklim global.
Selain menanamkan kesadaran ekologis, nobar ini menjadi medium penting untuk menumbuhkan rasa simpati dan empati santri terhadap masyarakat Papua. Kegiatan ini menekankan pesan persaudaraan lintas agama dan suku; bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi penghalang terwujudnya kepedulian. Kesadaran sebagai saudara sebangsa dan setanah air menjadi nilai utama yang ditekankan kepada para santri.
Secara tidak langsung, acara ini juga berhasil mematahkan stigma yang kerap dialamatkan kepada komunitas pesantren. Selama ini, kerap muncul narasi simpang siur yang menyebutkan bahwa kepedulian santri dan pesantren hanya terpusat pada isu-isu Timur Tengah seperti Palestina, hingga abai terhadap penderitaan saudara sebangsa di dalam negeri. Nobar ini membuktikan bahwa pesantren menaruh perhatian yang sama besarnya terhadap ketidakadilan yang terjadi di bumi pertiwi.
Dampak dari pemutaran film ini pun langsung dirasakan oleh para peserta. Atsil, salah seorang santri kelas 11, mengungkapkan pandangan kritisnya setelah menyaksikan dokumenter tersebut.
"Setelah menonton film ini kita jadi tahu, bahwa penjajahan tidak hanya dilakukan oleh negara lain, tapi bisa juga dilakukan oleh negara sendiri. Yaitu ketika rakyat Papua harus menjadi korban kolonialisme di tanahnya sendiri." — Atsil, Santri Kelas 11 SMAIT Insan Cita Serang.
Melalui agenda nobar dan diskusi ekologi ini, Pesantren Terpadu Insan Cita Serang terus membuktikan komitmennya dalam mencetak generasi muslim yang tidak hanya cerdas secara spiritual dan akademik, tetapi juga peka terhadap isu-isu keadilan sosial dan kelestarian lingkungan hidup.

