Digital Marketing Agency SEO Agency Social Media Agency Pesantren Terpadu Insan Cita Serang - Detail Berita
Insan Cita Perkuat Sinergi Orang Tua dan Pesantren melalui Pertemuan Wali Santri

Serang, 1 Agustus 2026 — Pendidikan seorang anak tidak pernah menjadi perjalanan satu pihak. Ada sekolah yang mendidik, pesantren yang membina, dan orang tua yang menjadi rumah pertama bagi tumbuhnya nilai-nilai dalam diri anak. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar pendidikan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian.

Semangat itulah yang terasa dalam Pertemuan Wali Santri Kelas 7 SMPIT dan Kelas 10 SMAIT Insan Cita Serang yang dilaksanakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026, bertempat di Masjid Al-Iman, Pesantren Terpadu Insan Cita Serang.

Pertemuan ini menjadi ruang untuk memperkenalkan lebih dekat lingkungan pendidikan Insan Cita kepada para wali santri sekaligus membuka komunikasi antara orang tua, sekolah, dan pesantren. Bukan sekadar pertemuan administratif, kegiatan ini menjadi momentum untuk menyamakan persepsi tentang bagaimana putra-putri mereka akan tumbuh, belajar, dan ditempa selama berada di Insan Cita.

*Mengenal Mereka yang Membersamai Perjalanan Santri*

Rangkaian kegiatan diawali dengan pengenalan struktur pendidikan di lingkungan Pesantren Terpadu Insan Cita Serang. Para wali santri diperkenalkan kepada jajaran pimpinan, mulai dari Kepala Pesantren, Kepala Sekolah, hingga para guru dan tenaga kependidikan.

Pengenalan tersebut tidak hanya mencakup guru-guru sekolah, tetapi juga para pendidik di lingkungan asrama dan kepesantrenan. Setiap personel diperkenalkan beserta peran dan tanggung jawabnya. Hal ini menjadi bagian penting untuk membangun keterbukaan sekaligus memberikan gambaran kepada orang tua tentang siapa saja yang akan membersamai putra-putri mereka selama menempuh pendidikan di Insan Cita.

Sebab, di balik rutinitas seorang santri—bangun pagi, mengikuti pembelajaran, menghafal Al-Qur’an, berorganisasi, berolahraga, hingga beristirahat di asrama—ada banyak tangan yang bekerja dan banyak sosok yang membersamai.

*Lebih Dekat dengan Program dan Cita-Cita Pendidikan SMAIT*

Memasuki agenda berikutnya, Ustadz Nasrudin, S.Ud., M.Ag. memaparkan berbagai hal mengenai SMAIT Insan Cita Serang. Para wali santri diajak mengenal lebih dekat struktur sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, serta berbagai program yang dirancang untuk mendukung perkembangan akademik maupun nonakademik siswa.

Berbagai program unggulan turut diperkenalkan, di antaranya Studi Kampus, Karya Tulis Ilmiah (KTI), Green School, Digital Club, Bimbingan Masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Luar Negeri (PTLN), serta berbagai program lainnya.

Pemaparan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di SMAIT Insan Cita tidak hanya diarahkan agar siswa mampu menyelesaikan pendidikan menengah, tetapi juga dipersiapkan untuk melanjutkan langkah menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Hal tersebut semakin diperkuat dengan pemaparan mengenai berbagai prestasi siswa dan lulusan SMAIT Insan Cita Serang yang telah berhasil diterima di sejumlah perguruan tinggi favorit, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Prestasi tersebut menjadi gambaran bahwa proses pendidikan yang berlangsung di Insan Cita berusaha membuka jalan seluas-luasnya bagi siswa untuk mengenali potensi, mengembangkan kemampuan, dan berani menatap masa depan.

*SMPIT Insan Cita: Menemukan Potensi, Menumbuhkan Prestasi*

Sementara itu, Ustadz Abdul Aziz, S.Pd.I., M.Pd. selaku Kepala SMPIT Insan Cita Serang menyampaikan berbagai program dan capaian sekolah dalam mendampingi siswa di jenjang SMP.

SMPIT Insan Cita Serang terus berkomitmen untuk mengembangkan potensi siswa melalui berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik. Salah satunya dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengikuti beragam kompetisi, termasuk Olimpiade Sains Nasional (OSN), Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N), serta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).

Tidak berhenti pada keikutsertaan, siswa juga memperoleh bimbingan dan pendampingan secara intensif sesuai minat dan bakat masing-masing. Dengan demikian, setiap siswa diharapkan memiliki ruang untuk menemukan bidang yang disukainya sekaligus mengasah kemampuan hingga mampu berprestasi.

Berbagai capaian siswa SMPIT Insan Cita Serang, baik di tingkat provinsi maupun nasional, turut dipaparkan dalam kesempatan tersebut. Prestasi itu menjadi catatan perjalanan sekolah sekaligus pengingat bahwa setiap anak memiliki potensi yang layak untuk ditemukan dan dikembangkan.

*Ketika Pendidikan Kembali kepada Sebuah Amanah*

Di antara rangkaian agenda yang sarat informasi tersebut, terdapat satu sesi yang membawa pertemuan pada perenungan yang lebih mendalam.

K.H. Sudarman Ibnu Murtadho, Lc., selaku Ketua Yayasan Rahmatan Lil'alamin yang menaungi Pesantren Terpadu Insan Cita Serang, menyampaikan nasihat kepada para wali santri dengan mengangkat firman Allah dalam QS. At-Tahrim ayat 6:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”»

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa mendidik anak bukan sekadar tanggung jawab untuk memastikan mereka memperoleh nilai yang baik, masuk perguruan tinggi yang diinginkan, atau memiliki masa depan yang gemilang. Lebih jauh dari itu, orang tua memikul amanah untuk menjaga diri dan keluarganya agar tetap berada dalam jalan yang diridai Allah.

Dalam konteks itulah, menyekolahkan anak di pesantren diharapkan menjadi salah satu ikhtiar orang tua untuk memberikan fondasi keagamaan yang kuat. Anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan agama, tetapi juga berkesempatan untuk belajar mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, mendidik manusia tentu tidak sesederhana menekan sebuah tombol pada mesin.

Setiap anak datang dengan karakter, kecenderungan, kemampuan, dan keunikan masing-masing. Karena itu, pendidikan membutuhkan kesabaran, pendekatan yang beragam, ketelatenan, dan kerja sama dari banyak pihak.

Pesan inilah yang menjadi salah satu inti nasihat beliau kepada para wali santri: pendidikan adalah proses panjang yang membutuhkan kepercayaan dan kebersamaan.

K.H. Sudarman juga mengajak para wali santri untuk mempercayakan proses pendidikan dan pembinaan putra-putri mereka kepada pihak pesantren. Ia menyampaikan bahwa para santri telah dipandang dan diperlakukan layaknya putra-putri sendiri—sebuah ungkapan yang menegaskan bahwa kehidupan di pesantren bukan semata-mata tentang aturan dan kedisiplinan, tetapi juga tentang perhatian, pembinaan, dan kasih sayang.

*Memahami Dunia Pesantren Lebih Dekat*

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ustadz Abdul Fatah, Lc. selaku Mudir Pesantren Terpadu Insan Cita Serang.

Dalam kesempatan tersebut, beliau memaparkan berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan kepesantrenan. Mulai dari mata pelajaran kepesantrenan, program Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an, hingga berbagai aktivitas yang menjadi bagian dari keseharian santri di asrama.

Bagi para wali santri, pemaparan ini memberikan gambaran yang lebih utuh tentang kehidupan putra-putri mereka setelah meninggalkan rumah. Bahwa kehidupan di pesantren bukan hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga melalui berbagai kebiasaan yang dibangun dari hari ke hari.

Di sinilah pendidikan karakter berlangsung: dalam kedisiplinan bangun pagi, kebersamaan di asrama, interaksi dengan teman, pembiasaan ibadah, tanggung jawab terhadap tugas, hingga belajar mengelola diri tanpa selalu berada di bawah pengawasan orang tua.

Duduk Bersama, Mendengarkan, dan Mencari Jalan Keluar

Pertemuan kemudian ditutup dengan sesi sharing dan tanya jawab bersama para wali santri.

Sesi ini menjadi ruang dua arah. Para orang tua dapat menyampaikan pertanyaan, keresahan, maupun berbagai hal yang ingin diketahui terkait kehidupan dan pembelajaran putra-putri mereka di pesantren. Di sisi lain, pihak sekolah dan pesantren dapat memberikan penjelasan sekaligus mendengarkan masukan dari orang tua.

Pada akhirnya, pendidikan memang tidak selalu berjalan dengan satu jawaban yang sederhana. Ada banyak hal yang perlu dibicarakan, dipahami, dan diselesaikan bersama.

Dan mungkin, di situlah makna penting pertemuan wali santri kali ini.

Sebab ketika seorang anak dititipkan kepada sebuah lembaga pendidikan, yang sesungguhnya berpindah bukanlah tanggung jawab orang tua kepada sekolah atau pesantren. Tanggung jawab itu justru menjadi amanah bersama.

Sekolah berusaha memberikan pendidikan terbaik. Pesantren membangun lingkungan dan pembiasaan. Orang tua memberikan dukungan, doa, serta kepercayaan.

Ketiganya bertemu pada satu tujuan: agar setiap santri tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, tetapi juga memiliki iman, karakter, kemandirian, dan bekal kehidupan yang cukup untuk menapaki masa depannya.

Pertemuan wali santri kelas 7 dan 10 akhirnya bukan sekadar penanda dimulainya perjalanan baru. Ia menjadi sebuah pengingat bahwa di balik setiap anak yang sedang tumbuh, ada orang-orang dewasa yang memilih untuk berjalan bersama—mendidik, mengarahkan, mendengarkan, dan mendoakan.

Karena pada akhirnya, mendidik anak bukan tentang siapa yang paling berperan, melainkan tentang bagaimana kita dapat saling menguatkan demi masa depan mereka.