
Serang, 25 Agustus 2026 — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Terpadu Insan Cita Serang berlangsung semarak pada Selasa (25/8). Berbagai kegiatan digelar untuk menghidupkan suasana peringatan sekaligus mengajak siswa dan guru mengenal lebih dekat perjalanan hidup serta keteladanan Rasulullah SAW.
Kajian tentang sirah Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu rangkaian utama dalam kegiatan tersebut. Melalui kajian ini, warga sekolah diajak menyusuri kembali perjalanan dakwah Rasulullah serta mengenal akhlak mulia yang beliau tunjukkan dalam menghadapi berbagai keadaan.
Semarak Maulid semakin terasa melalui kegiatan literasi yang melibatkan siswa dan guru. Dua perlombaan disiapkan, yaitu lomba menulis puisi tentang Rasulullah SAW dan lomba menulis surat untuk Rasulullah SAW. Peserta diberi kesempatan untuk menuangkan rasa cinta, kekaguman, dan renungan mereka terhadap sosok Nabi Muhammad SAW melalui tulisan.
Keterlibatan guru dalam perlombaan tersebut membuat kegiatan literasi menjadi ruang bersama. Siswa dan guru sama-sama mengambil bagian dalam peringatan Maulid dengan cara yang dekat dengan dunia pendidikan: membaca, menulis, dan mengenal kembali sosok yang menjadi teladan bagi umat Islam.
Di balik rangkaian kegiatan tersebut, ada satu pertanyaan yang layak direnungkan: ketika kita memperingati kelahiran Rasulullah SAW, apa sebenarnya yang ingin kita kenang?
Mengenang Rasulullah, Menghidupkan Keteladanan
Mengenang Rasulullah berarti kembali melihat perjalanan hidup seorang manusia yang menjadi teladan dalam banyak sisi kehidupan. Beliau adalah seorang nabi dan rasul, pemimpin, pendidik, sekaligus pribadi yang dikenal dengan kejujuran, kelembutan, kesabaran, dan kasih sayang.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 bahwa pada diri Rasulullah terdapat uswatun hasanah, teladan yang baik bagi orang-orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir.
Ayat tersebut mengarahkan kita untuk melihat sosok Rasulullah lebih jauh dari sekadar kisah sejarah. Kehidupan beliau menyimpan nilai yang dapat dipelajari dan diterapkan dalam keseharian.
Salah satu kisah yang menggambarkan keluhuran akhlak Rasulullah terjadi ketika beliau berdakwah di Thaif. Dakwah beliau mendapatkan penolakan yang berat. Dalam keadaan demikian, Rasulullah tetap memilih untuk berharap akan hadirnya kebaikan dari masyarakat Thaif. Beliau tidak menjadikan perlakuan buruk yang diterimanya sebagai alasan untuk berhenti menebarkan kasih sayang.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa akhlak mulia lahir dari kemampuan seseorang untuk tetap berbuat baik ketika berada dalam keadaan yang sulit. Rasulullah mengajarkan bahwa menghadapi perbedaan, penolakan, dan perlakuan yang kurang menyenangkan membutuhkan kesabaran serta keluasan hati.
Nilai-nilai itu terasa dekat dengan kehidupan di sekolah. Ada perbedaan pendapat dengan teman, persaingan dalam belajar, kesalahpahaman, hingga berbagai persoalan kecil yang terkadang dapat menjadi besar. Dalam situasi semacam itu, keteladanan Rasulullah dapat menjadi cermin bagi kita untuk belajar menjaga ucapan, menghargai orang lain, dan menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik.
Dari Iqra' hingga Semangat Menuntut Ilmu
Ada pula teladan Rasulullah yang begitu dekat dengan dunia pendidikan. Ketika wahyu pertama turun, perintah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra', yang berarti “bacalah”.
Perintah membaca tersebut menjadi awal dari sebuah perjalanan besar. Dari membaca, manusia belajar mengenal dirinya, memahami kehidupan, dan menemukan pengetahuan. Ilmu kemudian menjadi jalan yang mengantarkan manusia untuk melihat dunia dengan pemahaman yang lebih luas.
Semangat Iqra' memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan seorang pelajar. Belajar bukan semata-mata tentang memperoleh nilai di ruang kelas. Ada proses membentuk cara berpikir, melatih rasa ingin tahu, mengembangkan kemampuan bertanya, dan menemukan makna dari apa yang dipelajari.
Di sinilah peringatan Maulid Nabi bertemu dengan semangat literasi di Insan Cita Serang.
Puisi dan surat yang ditulis dalam rangkaian kegiatan Maulid menjadi bentuk sederhana dari proses belajar tersebut. Peserta perlu mengenal sosok yang hendak mereka tuliskan, memahami nilai-nilai kehidupannya, kemudian menerjemahkan pemahaman itu ke dalam bahasa mereka sendiri.
Menulis tentang Rasulullah dapat menjadi sebuah proses mengenal. Setiap kata yang dituangkan dapat menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya yang kita kagumi dari Rasulullah? Akhlaknya? Kesabarannya? Kejujurannya? Kecintaannya kepada umat? Atau semangatnya dalam menyampaikan ilmu dan kebenaran?
Ketika Cinta Memerlukan Bukti
Kecintaan kepada Rasulullah SAW tentu menjadi sesuatu yang mulia. Akan tetapi, cinta akan memiliki makna yang lebih dalam ketika ia melahirkan keinginan untuk mengikuti keteladanan beliau.
Mencintai Rasulullah berarti berusaha menjaga kejujuran ketika tidak ada yang melihat. Berusaha bersikap lembut ketika sedang marah. Belajar memaafkan ketika disakiti. Menghormati guru dan orang tua. Menolong orang lain ketika memiliki kemampuan untuk membantu. Serta terus mencari ilmu meskipun prosesnya terkadang terasa sulit.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Justru melalui kebiasaan-kebiasaan kecil itulah keteladanan Rasulullah dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Setelah mengenal perjalanan hidup Rasulullah, apa yang ingin kita bawa pulang? Setelah membaca kisah akhlaknya, sikap apa yang ingin kita perbaiki? Setelah menulis puisi dan surat tentang beliau, sudahkah rasa cinta itu menemukan bentuknya dalam kehidupan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat peringatan Maulid memiliki makna yang lebih panjang daripada satu hari kegiatan.
Menjadikan Maulid sebagai Awal
Semarak Maulid Nabi Muhammad SAW di Insan Cita Serang menjadi ruang bagi siswa dan guru untuk belajar mengenal Rasulullah melalui berbagai cara. Kajian membuka kembali kisah perjalanan hidup beliau. Puisi dan surat menjadi ruang untuk menuangkan rasa cinta melalui literasi. Keterlibatan guru dan siswa menghadirkan suasana belajar yang tumbuh bersama. Mengenang kelahiran Rasulullah SAW adalah tentang menjaga agar keteladanan beliau tetap memiliki tempat dalam kehidupan kita.
Kita mengenang beliau agar kejujuran tetap menjadi pilihan. Agar ilmu tetap dicari. Agar kesabaran tetap dilatih. Agar kasih sayang tetap diberikan. Agar perbedaan tidak selalu berakhir dengan pertentangan.
Maulid pun menjadi sebuah pengingat bahwa sosok yang kita cintai perlu kita kenali, dan sosok yang kita kenali perlu kita teladani.
Dari sebuah kajian, semoga lahir pemahaman.
Dari sebuah puisi, semoga tumbuh kecintaan.
Dari sebuah surat, semoga hadir perenungan.
Dan dari peringatan Maulid, semoga ada akhlak Rasulullah yang perlahan hidup dan menetap dalam diri kita.

