Seorang pemuda ingin mempelajari seni bela diri dengan pedang. Ia mendaki sebuah gunung tinggi di Cina untuk memohon petunjuk dari seorang guru pedang tua yang telah pensiun dan menjalani tahun tahun terakhir hidupnya di atas gunung. Setelah perbincangan yang panjang, sang guru akhirnya setuju untuk mengajar sang pemuda. 

Sejak dari awal, sang guru terus membuat pemuda itu sibuk membelah kayu, berkebun, memasak, mencuci, menimba air dari sumur, dan melakukan tugas-tugas harian lainnya yang sejenis. Hari – hari dan minggu minggu berlalu, dan sang guru masih saja tidak mengatakan apa-apa mengenai ilmu bermain pedang.

Akhirnya, sang murid yang sudah lelah menjadi pembantu gurunya dan tidak belajar apa – apa tentang seni pedang. Ia-pun mendekati gurunya dan bertanya mengenai pengajaran seni pedang yang semula menjadi tujuan kedatangannya. Sang guru mendengarkan dan meminta muridnya kembali ke kegiatan rutin hariannya.

Sementara sang pemuda sedang memasak nasi, sang guru tiba – tiba muncul dibelakangnya, menyerangnya dengan pedang kayu, kemudian menghilang dengan cepat tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sang murid sudah sedang menyapu lantai ketika tiba tiba, persis saat ia begitu terserap dengan tugasnya dan tidak menduga sama sekali, gurunya muncul kembali di belakangnya, memukulnya dengan pedang kayu dan secepat kilat menghilang.

Hal ini berlangsung sepanjang hari, setiap hari. Tak peduli apa yang sedang dilakukan pemuda itu. Ia tidak pernah bisa beristirahat karena gurunya akan muncul lagi kapan saja dengan pedang kayunya.

Waktu terus berlalu dan akhirnya sang pemuda telah mengembangkan keterampilan menangkap dan menghentikan sang guru, dari mana pun arah kedatangannya.

Sang pemuda menyadari, ia telah mempelajari sesuatu yang berharga dan ingin belajar lebih jauh. Maka suatu pagi, ketika ia perhatikan gurunya sedang sibuk memasak sayuran, ia memungut sebuah tongkat besar dan melakukan apa yang biasa dilakukan sang guru kepadanya. Ia tiba – tiba muncul di belakang gurunya dan mengayunkan tongkat itu ke depan untuk menyerang sang guru. Dalam sekejap, sang guru meraih tutup periuk, memutar badan dan menggunakan tutup itu untuk menangkis ujung tongkat.

Sang pemuda pun membungkuk hormat pada gurunya dan bertanya, “ Guru, sudikah kiranya Guru memberitahu kebijaksanaan dari pelajaran-pelajaranku?” Sang guru menjawab, “ Kesadaran.”

“Apa maksudnya itu?” tanya pemuda itu,

Sang guru kembali menjawab, “ Ketika aku memintamu melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, itu sebenarnya membantumu agar sadar bahwa ada sesuatu yang perlu kau ubah. Ketika aku tiba-tiba menyerangmu dengan pedang kayu, kau mengembangkan kekuatan antisipasi hingga ke titik dari mana pun aku datang kau akan selalu bisa mengetahuinya dan menghentikanku. Kau jadi sadar sepenuhnya akan situasi di sekelilingmu hingga pada titik menumbuhkan keberanian, dan keberanianmu – ya, kau mengembangkannya sendiri. Kau memutuskan untuk menyerangku dan kau bisa perhatikan betapa cepat pula aku menghentikanmu.

Demikianlah, Anak Muda, kau telah belajar pondasi para guru besar

*KEKUATAN KESADARAN.”*

كِتاَبٌ أَنْزَلْناَهُ إِلَيكَ مُبارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيـَاتِهِ وَ لِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْباَبِ

“Sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu sebagai sumber-kebaikan agar mereka merenungkan tanda-tanda [nyata]-Nya dan agar orang-orang berakal menjadi sadar.”

(QS. Shad [38]: 29)

Bagaimana dengan kesadaran beragama kita? Putra dan putri kita tercinta sudahkah menyadari siapa dirinya? Ingin menjadikan diri kita dan mereka yang kita cintai menjadi insan yang tumbuh penuh kesadaran siapa dirinya di dunia dan akhirat ini ?

Daftarkan putra putri anda, belajar bersama kami INSAN CITA SERANG (ICS) ISLAMIC BOARDING SCHOOL pimpinan KH Sudarman Ibnu Murtadho, Lc., Pembina Yayasan Dr.KH.Jazuli Juwaini, Lc., MA., dan H. Tamsil Linrung

Hubungi whatssapp

http://bit.ly/mohoninfoicsakhwat

http://bit.ly/mohonInfoicsikhwan

#insancitaserangboardingschool

#kesadaranfull

#sekolahnyaparahafidz

Mohon bantuan untuk di-viral-kan, jika berkenan. Jazakumullah Khair

WhatsApp chat