Oleh: Annida Nurul Hanifah

@lianhari

Tiga hari kemudian aku dibawa pulang ke rumah oleh umi karena aku terus merengek minta pulang, untungnya dokter mengizinkanku pulang asal selama di rumah aku diminta jangan dulu melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan sebelum jahitanku benar-benar kering. Rasanya senang sekali akhirnya aku tidak menyusahkan umi lagi, jadi umi bisa beristirahat sepuasnya di rumah.

Namun perjuangan umi ternyata masih belum berakhir. Baru dua hari aku pulang ke rumah perutku terasa perih dan sakit lagi, setelah diperiksa oleh umi ternyata di dalam jahitan perutku masih ada jaringan lunak yang terbuka hingga mengakibatkan infeksi. Umi langsung bergegas membawaku kembali ke rumah sakit untuk diperiksa secara intensif, setelah ditangani oleh dokter ternyata aku harus melakukan operasi ulang untuk membersihkan infeksi di perutku sekaligus menutup kembali jahitan-jahitan yang terbuka. Sebelum melakukan operasi, aku diminta untuk tes SWAB antigen terlebih dahulu. Namun, sayangnya hasil tesku positif Covid-19 sehingga dokter meminta untuk menunda melakukan operasi tersebut sampai 14 hari ke depan.

Umi memohon-mohon pada dokter dan pihak rumah sakit agar aku tetap bisa dioperasi tanpa harus menunggu dulu selama 14 hari, tapi jawaban mereka masih tetap sama seperti di awal tadi. Meskipun aku diberi obat pereda nyeri namun itu sifatnya hanya sementara, rasa sakit akibat infeksi dari jahitan yang terbuka itu akan kambuh lagi sewaktu-waktu.

Umi tak sanggup melihat aku terus-menerus kesakitan, akhirnya umi berjuang kesana kemari hanya untuk mencari rumah sakit yang bisa melakukan operasi bagi pasien positif Covid-19. Setelah sehari semalam bolak-balik mengelilingi Kota Serang, umi berhasil menemukan rumah sakit yang mau mengoperasiku tanpa harus menunggu selesai isolasi terlebih dulu.

Akhirnya, aku dioperasi dan dirawat lagi di rumah sakit yang berbeda dari sebelumnya. Tapi kali ini aku hanya sendirian di dalam kamar inap, tanpa ditemani oleh siapa pun termasuk umi. Ruangan yang kutempati itu semakin terasa hampa dan sunyi tanpa kehadirannya. Tapi meskipun tak boleh masuk umi rela menungguku di luar ruangan selama aku dirawat, padahal di luar sana hanya ada kursi keras yang terbuat dari besi. Aku berkomunkasi dengan umi via telepon yang disediakan pihak rumah sakit, umi selalu berusaha menghiburku agar aku tidak bosan di dalam ruangan ini sendirian.    

WhatsApp chat