Oleh: Annida Nurul Hanifah

@lianhari

Anehnya air hujan yang tadi kulihat berjatuhan dari pelupuk mata umi tiba-tiba berubah menjadi senyuman manis namun menggetirkan, dengan suara bergetar umi menjelaskan bahwa aku terkena infeksi usus buntu dengan gejala berat yang mengharuskan adanya tindakan operasi agar aku bisa sehat kembali.

Umi menjelaskan semua itu sambil menahan air matanya dan berusaha agar tetap tenang di depanku, aku tahu betul umiku tak pernah ingin terlihat menyedihkan di depan anak-anaknya agar kami semua tumbuh menjadi anak yang kuat dan tak cengeng. Namun kali ini sorotan mata umi tak mampu membohongiku, ada kengerian dan ketakutan yang tersimpan di balik tatapan matanya.

Sejak kecil aku selalu takut mendengar kata operasi karena dalam bayanganku tubuh kita nanti akan disayat-sayat, dipotong, lalu dijahit kembali, tapi sekarang aku justru akan mengalaminya langsung. Aku tak bisa menahan tangisku, sambil memeluk umi dengan suara sesenggukan aku bilang kalau aku takut dan mau pulang saja. Namun umi menguatkanku dengan suara yang meneduhkan.

Waktu operasi pun tiba, aku dibawa oleh beberapa perawat berbaju hijau menuju ruang operasi. Sambil menyusuri lorong rumah sakit di sepanjang perjalanan umi memegangi tanganku dengan erat. Sesampainya di depan pintu ruang operasi, umi berbisik merdu di telingaku “Yang kuat yaa sayang, umi yakin kamu bisa sembuh. Jangan takut, umi di sini nemenin Nida” genggaman umi pun terlepas perlahan-lahan. Beberapa menit kemudian ruangan menjadi gelap gulita, sayup-sayup kudengar suara dokter dan perawat saling berbicara.

Dua jam kemudian aku tersadar dari obat bius yang membuatku tertidur lama tadi. Mataku melihat ke atap-atap langit, lalu menelusuri seluruh ruangan yang kutempati ini. Ruangan ini terasa asing, berbeda dari kamar inap yang kutempati sebelum operasi. Aku belum bisa bergerak banyak karena jahitan di perutku terasa sangat sakit saat tubuhku digerakkan.

Seseorang yang kucari-cari sedari tadi akhirnya kutemukan, umi tertidur tepat di samping ranjangku. Wajahnya terlihat sangat lelah dan menyedihkan, tanpa terasa mataku meneteskan air mata perlahan-lahan sambil mengingat betapa luar biasanya umi merawatku selama ini dari mulai makan, minum, mandi, dan seluruh aktivitas lainnya dibantu olehnya. Umi juga selalu berusaha menghiburku selama aku sakit supaya aku tidak tambah down. Tiba-tiba umi terbangun dari tidurnya yang tak nyenyak itu, mulutnya tak henti-henti mengucap syukur ketika melihatku sudah tersadar dari operasi sore tadi. Umi bilang aku anak yang hebat karena berhasil melewati operasi dengan selamat.

 

WhatsApp chat