Oleh: Annida Nurul Hanifah

@lianhari

Halo, perkenalkan namaku Nida. Annida Nurul Hanifah adalah nama lengkapku. Aku mempunyai cerita yang tak terlupakan bersama umi, meskipun ceritanya menyedihkan tapi akan tetap selalu terkenang.

***

Pada bulan Maret 2021 saat aku sedang mempersiapkan materi untuk mengikuti tes ujian masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) tiba-tiba aku mulai merasa tidak enak badan dan perutku terasa sakit sekali seperti dillit sesuatu dengan sangat kencang. Awalnya kukira hanya masuk angin biasa, tapi semakin lama semakin terasa menyakitkan dan tubuhku terlihat semakin kurus setiap harinya, selain itu tubuhku juga kekurangan cairan akibat sering muntah-muntah dan diare.

Umiku panik melihat kondisiku yang semakin lama justru semakin memburuk padahal sudah diobati berkali-kali, hingga pada akhirnya umi memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit terdekat agar bisa mendapatkan perawatan secara intensif. Setelah dua hari satu malam aku menginap di rumah sakit, keesokan paginya dokter dan beberapa perawat membawaku ke sebuah ruangan dengan alat-alat yang aku tak tahu namanya. Alat-alat canggih itu ditempel di perutku berkali-kali, rasanya dingin sekali seperti sendok yang baru dikeluarkan dari freezer.

Seusai pemeriksaan itu, aku dibawa kembali ke kamar inap yang sudah kutempati dua hari yang lalu. Kata dokter kami harus menunggu sekitar satu jam sampai hasil pemeriksaan itu keluar. Aku melihat wajah umi yang teduh namun penuh kecemasan, ia sibuk melafazkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dihafalnya pun ia berdoa agar tak ada hal buruk yang terjadi dari hasil pemeriksaan tadi.

Satu jam pun berlalu, hasil pemeriksaan itu akhirnya keluar. Dokter mengajak umi berbicara serius empat mata di pojok ruangan, aku tak tahu apa yang dibicarakan mereka berdua tapi wajah teduh umi tiba-tiba berubah menjadi mendung hingga akhirnya pecah menjadi butiran-butiran air mata. Setelah mereka selesai berbicara, dokter menghampiriku dan bilang kalau aku harus puasa dulu sampai sore nanti. Aku yang sedari tadi kebingungan hanya bisa menganggukkan kepala sebagai tanda kalau aku merespon ucapan  dokter itu.

WhatsApp chat