Merawat Luka dengan Cinta -tamat

Merawat Luka dengan Cinta -tamat

Oleh: Annida Nurul Hanifah

@lianhari

Dua minggu pun berlalu, masa isolasi telah selesai dan virus Covid-19 yang selama ini bermain di tubuhku pun kini sudah hilang. Namun, luka bekas jahitan itu masih dalam masa pemulihan. Dokter bilang proses penyembuhannya akan memakan waktu yang cukup lama karena pernah terjadi infeksi sebelumnya dan harus rutin dibersihkan sebanyak 3 kali sehari sampai benar-benar sembuh total. Kabar baiknya, aku sudah diperbolehkan rawat jalan dari rumah.

Selama di rumah, umilah yang menjadi dokter pribadiku. Umi merawatku dengan penuh kasih sayang dan ketelatenan, tak ada kata jijik bagi umi ketika harus merawat anaknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku berharap bisa membalas semua kebaikan umi meskipun aku tahu kasih sayang seorang ibu tak akan bisa dibalas oleh apapun. Perjuangan umi merawat lukaku dengan penuh cinta selama kurang lebih satu bulan ini akan terukir indah dalam kisah hidupku, mungkin kalau seandainya waktu itu ususku harus diganti maka umilah orang yang akan mendonorkan ususnya untukku. Hal yang paling kutakutkan saat sakit kemarin adalah kalau tiba-tiba aku tidak bisa memeluk umi lagi, aku takut umurku tak sampai di ujung usia umi. Selama sakit aku selalu merengek ingin pulang ke rumah padahal tanpa kusadari bahwa rumah yang sesungguhnya bagi seorang anak adalah ibunya sendiri.

***

Annida Nurul Hanifah, lahir di Serang 27 Februari 2009. Saat ini sedang menuntut ilmu di SMPIT Insan Cita Serang Islamic Boarding School dan mencoba untuk terus mempelajari ilmu-ilmu yang terhampar luas di bumi Allah Ini meskipun aku sedikit pemalas sih hehe Selain itu, sedang mencoba berbagi cerita lewat tulisan berharap ada setetes kebaikan yang dapat diambil dari kisah hidupku ini. Aku pernah bersekolah di SDS Peradaban Serang sebelum mondok di Insan Cita.

Merawat Luka dengan Cinta -tamat

Merawat Luka dengan Cinta -part 3

 

Oleh: Annida Nurul Hanifah

@lianhari

Tiga hari kemudian aku dibawa pulang ke rumah oleh umi karena aku terus merengek minta pulang, untungnya dokter mengizinkanku pulang asal selama di rumah aku diminta jangan dulu melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan sebelum jahitanku benar-benar kering. Rasanya senang sekali akhirnya aku tidak menyusahkan umi lagi, jadi umi bisa beristirahat sepuasnya di rumah.

Namun perjuangan umi ternyata masih belum berakhir. Baru dua hari aku pulang ke rumah perutku terasa perih dan sakit lagi, setelah diperiksa oleh umi ternyata di dalam jahitan perutku masih ada jaringan lunak yang terbuka hingga mengakibatkan infeksi. Umi langsung bergegas membawaku kembali ke rumah sakit untuk diperiksa secara intensif, setelah ditangani oleh dokter ternyata aku harus melakukan operasi ulang untuk membersihkan infeksi di perutku sekaligus menutup kembali jahitan-jahitan yang terbuka. Sebelum melakukan operasi, aku diminta untuk tes SWAB antigen terlebih dahulu. Namun, sayangnya hasil tesku positif Covid-19 sehingga dokter meminta untuk menunda melakukan operasi tersebut sampai 14 hari ke depan.

Umi memohon-mohon pada dokter dan pihak rumah sakit agar aku tetap bisa dioperasi tanpa harus menunggu dulu selama 14 hari, tapi jawaban mereka masih tetap sama seperti di awal tadi. Meskipun aku diberi obat pereda nyeri namun itu sifatnya hanya sementara, rasa sakit akibat infeksi dari jahitan yang terbuka itu akan kambuh lagi sewaktu-waktu.

Umi tak sanggup melihat aku terus-menerus kesakitan, akhirnya umi berjuang kesana kemari hanya untuk mencari rumah sakit yang bisa melakukan operasi bagi pasien positif Covid-19. Setelah sehari semalam bolak-balik mengelilingi Kota Serang, umi berhasil menemukan rumah sakit yang mau mengoperasiku tanpa harus menunggu selesai isolasi terlebih dulu.

Akhirnya, aku dioperasi dan dirawat lagi di rumah sakit yang berbeda dari sebelumnya. Tapi kali ini aku hanya sendirian di dalam kamar inap, tanpa ditemani oleh siapa pun termasuk umi. Ruangan yang kutempati itu semakin terasa hampa dan sunyi tanpa kehadirannya. Tapi meskipun tak boleh masuk umi rela menungguku di luar ruangan selama aku dirawat, padahal di luar sana hanya ada kursi keras yang terbuat dari besi. Aku berkomunkasi dengan umi via telepon yang disediakan pihak rumah sakit, umi selalu berusaha menghiburku agar aku tidak bosan di dalam ruangan ini sendirian.    

Merawat Luka dengan Cinta -tamat

Merawat Luka dengan Cinta -part 2

Oleh: Annida Nurul Hanifah

@lianhari

Anehnya air hujan yang tadi kulihat berjatuhan dari pelupuk mata umi tiba-tiba berubah menjadi senyuman manis namun menggetirkan, dengan suara bergetar umi menjelaskan bahwa aku terkena infeksi usus buntu dengan gejala berat yang mengharuskan adanya tindakan operasi agar aku bisa sehat kembali.

Umi menjelaskan semua itu sambil menahan air matanya dan berusaha agar tetap tenang di depanku, aku tahu betul umiku tak pernah ingin terlihat menyedihkan di depan anak-anaknya agar kami semua tumbuh menjadi anak yang kuat dan tak cengeng. Namun kali ini sorotan mata umi tak mampu membohongiku, ada kengerian dan ketakutan yang tersimpan di balik tatapan matanya.

Sejak kecil aku selalu takut mendengar kata operasi karena dalam bayanganku tubuh kita nanti akan disayat-sayat, dipotong, lalu dijahit kembali, tapi sekarang aku justru akan mengalaminya langsung. Aku tak bisa menahan tangisku, sambil memeluk umi dengan suara sesenggukan aku bilang kalau aku takut dan mau pulang saja. Namun umi menguatkanku dengan suara yang meneduhkan.

Waktu operasi pun tiba, aku dibawa oleh beberapa perawat berbaju hijau menuju ruang operasi. Sambil menyusuri lorong rumah sakit di sepanjang perjalanan umi memegangi tanganku dengan erat. Sesampainya di depan pintu ruang operasi, umi berbisik merdu di telingaku “Yang kuat yaa sayang, umi yakin kamu bisa sembuh. Jangan takut, umi di sini nemenin Nida” genggaman umi pun terlepas perlahan-lahan. Beberapa menit kemudian ruangan menjadi gelap gulita, sayup-sayup kudengar suara dokter dan perawat saling berbicara.

Dua jam kemudian aku tersadar dari obat bius yang membuatku tertidur lama tadi. Mataku melihat ke atap-atap langit, lalu menelusuri seluruh ruangan yang kutempati ini. Ruangan ini terasa asing, berbeda dari kamar inap yang kutempati sebelum operasi. Aku belum bisa bergerak banyak karena jahitan di perutku terasa sangat sakit saat tubuhku digerakkan.

Seseorang yang kucari-cari sedari tadi akhirnya kutemukan, umi tertidur tepat di samping ranjangku. Wajahnya terlihat sangat lelah dan menyedihkan, tanpa terasa mataku meneteskan air mata perlahan-lahan sambil mengingat betapa luar biasanya umi merawatku selama ini dari mulai makan, minum, mandi, dan seluruh aktivitas lainnya dibantu olehnya. Umi juga selalu berusaha menghiburku selama aku sakit supaya aku tidak tambah down. Tiba-tiba umi terbangun dari tidurnya yang tak nyenyak itu, mulutnya tak henti-henti mengucap syukur ketika melihatku sudah tersadar dari operasi sore tadi. Umi bilang aku anak yang hebat karena berhasil melewati operasi dengan selamat.

 

Merawat Luka dengan Cinta -tamat

Merawat Luka dengan Cinta -part 1

Oleh: Annida Nurul Hanifah

@lianhari

Halo, perkenalkan namaku Nida. Annida Nurul Hanifah adalah nama lengkapku. Aku mempunyai cerita yang tak terlupakan bersama umi, meskipun ceritanya menyedihkan tapi akan tetap selalu terkenang.

***

Pada bulan Maret 2021 saat aku sedang mempersiapkan materi untuk mengikuti tes ujian masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) tiba-tiba aku mulai merasa tidak enak badan dan perutku terasa sakit sekali seperti dillit sesuatu dengan sangat kencang. Awalnya kukira hanya masuk angin biasa, tapi semakin lama semakin terasa menyakitkan dan tubuhku terlihat semakin kurus setiap harinya, selain itu tubuhku juga kekurangan cairan akibat sering muntah-muntah dan diare.

Umiku panik melihat kondisiku yang semakin lama justru semakin memburuk padahal sudah diobati berkali-kali, hingga pada akhirnya umi memutuskan untuk membawaku ke rumah sakit terdekat agar bisa mendapatkan perawatan secara intensif. Setelah dua hari satu malam aku menginap di rumah sakit, keesokan paginya dokter dan beberapa perawat membawaku ke sebuah ruangan dengan alat-alat yang aku tak tahu namanya. Alat-alat canggih itu ditempel di perutku berkali-kali, rasanya dingin sekali seperti sendok yang baru dikeluarkan dari freezer.

Seusai pemeriksaan itu, aku dibawa kembali ke kamar inap yang sudah kutempati dua hari yang lalu. Kata dokter kami harus menunggu sekitar satu jam sampai hasil pemeriksaan itu keluar. Aku melihat wajah umi yang teduh namun penuh kecemasan, ia sibuk melafazkan ayat-ayat Al-Qur’an yang dihafalnya pun ia berdoa agar tak ada hal buruk yang terjadi dari hasil pemeriksaan tadi.

Satu jam pun berlalu, hasil pemeriksaan itu akhirnya keluar. Dokter mengajak umi berbicara serius empat mata di pojok ruangan, aku tak tahu apa yang dibicarakan mereka berdua tapi wajah teduh umi tiba-tiba berubah menjadi mendung hingga akhirnya pecah menjadi butiran-butiran air mata. Setelah mereka selesai berbicara, dokter menghampiriku dan bilang kalau aku harus puasa dulu sampai sore nanti. Aku yang sedari tadi kebingungan hanya bisa menganggukkan kepala sebagai tanda kalau aku merespon ucapan  dokter itu.

WhatsApp chat