APA ITU PESANTREN TERPADU ?

APA ITU PESANTREN TERPADU ?

Mungkin ada yang bertanya-tanya ketika membaca nama Pesantren Terpadu Insan Cita Serang (ICS). Apa maksud dari Pesantren Terpadu itu? Apalagi pada masa sekarang, yang  dikenal cuma 2 istilah Pesantren Salafiyah dan Pesantren Modern.

Pesantren Salafiyah lebih identik dengan Pesantren yang hanya mengajarkan pendidikan agama saja dengan pola pengajaran dan pengelolaan tradisional. sedangkan Istilah Pesantren Modern dilekatkan pada pesantren yang menggunakan sistem pengajaran pendidikan umum (Matematika, Fisika dan lain – lain) tanpa meninggalkan Pendidikan agama. cuma porsi pendidikan agama memang lebih besar dibandingkan pendidikan umumnya.

Adapun pola pendidikan yang diterapkan dalam Pesantren Terpadu Insan Cita Serang (ICS) menggabungkan konsep Pesantren Salafiyah (tradisional) dan Konsep Pesantren Modern dengan basis tarbiyah. Kenapa ini diambil? Karena menurut Pengasuh Pesantren Terpadu Insan Cita Serang (ICS), KH. Sudarman Ibnu Murtadho, Lc., ikon pesantren itu kitab kuning dengan pengelolaan secara modern.

“Ikon-nya pesantren itu terdapat dalam kitab – kitab klasik Islam yang selama berpuluh tahun diajarkan di Pesantren. Sebuah Pesantren tanpa pembelajaran kitab – kitab klasik Islam ibarat Pesantren yang kehilangan ruh kepesantrenannya. Dibingkai dengan tarbiyah”.

Pesantren Terpadu berbasis tarbiyah dengan 10 target capaian santri

  1. Salimul Aqidah (Good Faith)
  2. Shohihul Ibadah (Right Devotion)
  3. Mantiqul Khuluq (Strong Character)
  4. Qowiyul Jismi (Physical Power)
  5. Mutsaqqoful Fikri (Thinking Brilliantly)
  6. Mujahatun Linafsihi (Continence)
  7. Haritsun ‘ala Waqtihi (Good Time Management)
  8. Munazhzhamun fi Syu’ unihi (Well Organized)
  9. Qodirun ‘alal Kasbi (Independent)
  10. Naafi’ un Lighoirihi (Giving Contribution)

KITAB KUNING

Sejak awal tumbuh dan berkembangnya Pesantren, Pembelajaran kitab – kitab klasik telah diterapkan sebagai usaha untuk mengokohkan tujuan utama pendidikan di Pesantren, membentuk kader ulama masa depan. Sehingga pembelajaran kitab – kitab klasik itu adalah bagian yang tak dapat dipisahkan satu sama lain.

Istilah kitab-kitab Islam klasik dalam dunia kepesantrenan, lebih dikenal dengan sebutan “kitab kuning”. Penyebutan istilah kemungkinan tersebut guna membatasi dengan tahun karangan kitab – kitab tersebut atau karena kertasnya yang berwarna kuning dulu.

Kitab-kitab kuning ini biasanya diajarkan oleh pengasuh pondok (Kyai) atau ustadz. Adapun kitab-kitab kuning yang diajarkan di Pesantren biasanya yaitu: (1) Nahwu (syntax) dan Sharaf (morfologi), (2) Fiqih (hukum), (3) Ushul Fiqh (yurispundensi), (4) Hadits, (5) Tafsir, (6) Tauhid (theologi), (7) Tasawuf dan Etika, (8) Cabang-cabang lain seperti Tarikh (sejarah) dan Balaghah. Kitab tersebut diajarkan secara berjenjang sesuai kemampuan para santri.

AYO MONDOK DI ICS

Ayo daftarkan putra-putri anda, belajar bersama kami Pesantren Terpadu Insan Cita Serang (ICS), Info hubungi (Whatsapp):

http://bit.ly/mohoninfoicsakhwat

http://bit.ly/mohonInfoicsikhwan

 

Diolah dari berbagai sumber

Apa Itu Thifan Tsufuk, Beladiri Wajib Santri ICS?

Apa Itu Thifan Tsufuk, Beladiri Wajib Santri ICS?

Di Pesantren Terpadu Insan Cita Serang (ICS) Banten, ada beberapa ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh santri ICS. Salah satunya adalah Beladiri Keluarga Muslim Thifan Tsufuk. Mungkin ada yang bertanya-tanya apa itu Beladiri Keluarga Muslim Thifan Tsufuk ini, baik berikut kami paparkan sejarah dan beberapa hal terkait Beladiri Keluarga Muslim Thifan Tsufuk.

SEJARAH THIFAN

Beladiri Thifan Tsufuk yang dipelajari di ICS merupakan salah satu aliran Thifan Po Khan. Bela diri Thifan Po Khan sendiri merupakan hasil perpaduan beragam aliran bela diri suku-suku Muslim di dataran Saldsyuk (Seljuk) sampai dataran Cina. Saat Islam mulai menyebar ke kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur, kaum Muslimin di kawasan ini terus memegang wasiat Rasulullah itu, mempelajari bela diri yang sesuai dengan kebiasaan dan keahlian masyarakat setempat.

Tersebutlah seorang bangsawan Suku Tayli bernama Je’nan, menghimpun berbagai ilmu bela diri yang ada di dataran Saldsyuk hingga dataran Cina. Bersama dengan pendekar muslim lain, yang memiliki keahlian gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk, silat Kittan, Tayli, mereka membentuk sebuah aliran bernama Shurul Khan.

Dari Shurul Khan inilah terbentuk aliran Naimanka, Kraiddsyu, Suyi, Syirugrul, Namsuit, Bahroiy, Tae Fatan, Orluq serta Payuq. Kesembilan aliran ini kemudian digubah, ditambah, ditempa, dialurkan, dipilah, dan diteliti, sampai akhirnya menjadi cikal bakal munculnya Thifan Po Khan.

Pada abad ke-16, Thifan Po Khan sudah dikenal di Indonesia. Saat itu, Raja Kerajaan Lamuri, Sultan Malik Muzafar Syah, mendatangkan para pelatih Thifan dari Turki Timur. Para pelatih itu kemudian disebarkan ke kalangan bangsawan di Sumatera.

Pada abad ke-18, Tuanku Rao dan kawan-kawannya mengembangkan Thifan ke daerah Tapanuli Selatan dan Minang. Selanjutnya bela diri Thifan tersebar ke Sumatera bagian timur dan Riau, yang berpusat di Batang Uyun/Merbau. Tuanku Haji atau Hang Udin juga membawa Thifan ke daerah Betawi dan sekitarnya.

Masuknya Thifan ke Jawa juga merupakan andil orang-orang Tartar yang berdagang ke pulau Jawa. Sambil menjajakan kain, mereka turut serta memperkenalkan Thifan pada masayarakat Jawa. Sedangkan di luar Jawa, Thifan disebarkan para pendekar yang berpetualang ke sana. Mereka bahkan sampai di Malaysia dan Thailand Selatan

PRINSIP-PRINSIP DALAM THIFAN:

Ada beberapa prinsip yang harus dimiliki oleh tamid yang belajar Thifan. Prinsip-prinsip tersebut sesuai dengan syariat Islam. Prinsip tersebut antara lain:

  • Tidak menyekutukan Allah, tidak percaya pada takhayul, khurafat dan tidak berbuat bid’ah dalam syara.
  • Berusaha amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat kebajikan dan melarang berbuat kemungkaran).
  • Bertindak teliti dan tekun mencari ilmu.
  • Tidak menganut asas ashobiah (kesukuan, kelompok).
  • Tidak menggunakan lambang-lambang, upacara-upacara, dan penghormatan-penghormatan yang menyalahi syara.

SYARAT BELAJAR THIFAN

Pada awalnya, syarat belajar Thifan itu harus bangsawan keluarga muslim. Tetapi saat ini tidak seperti itu lagi. Tetapi tetap ada syarat yang tidak boleh dilanggar yaitu “harus beragama islam”. Kenapa harus muslim? Karena ini sesuai dengan petuah/pesan para Pendekar pada masa lalu yang berbunyi “Bahwa ilmu ini di wakafkan/ diberikan cuma- cuma untuk umat islam dan untuk membela islam”.

Semoga Santri ICS bisa Kuat Imannya, Kuat Hafalannya, Kuat memegang prinsip, kuat adabnya dan kuat fisiknya untuk kejayaan Islam di masa yang akan datang.

Source :

 

Pesantren Benteng Akhlaq Anak Bangsa

Pesantren Benteng Akhlaq Anak Bangsa

Kita sempat dikejutkan oleh penganiayaan berujung maut yang dilakukan seorang murid SMAN 1 Torjun, HI (17) kepada gurunya, Ahmad Budi Cahyono (26) di sampang Madura Jawa Timur. Korban yang harus meregang nyawa di tangan muridnya sendiri, kamis (1/2/2018). Sebelumnya pada tanggal 22 Agustus 2016 ada seorang guru olah raga sekolah swasta di Bandung yang diduga kuat dibunuh oleh orang tua siswa. Korban tewas setelah di pukuli dan ditusuk di bagian perutnya. (Dikutip dari http://poskotanews.com/2016/08/22/penusuk-guru-hingga-tewas-diduga-orangtua-murid/)

Mendengar berita itu tentu membuat para guru se-Indonesia turut bersedih. Begitu juga dengan para orang tua, mereka sedih dan khawatir kalau saja anak-anaknya menjadi seperti itu. Tentu hal ini bukan hal yang mustahil terjadi saat ini. Di tengah krisis moral anak bangsa yang semakin meluas dimana-mana.

Pergaulan bebas dipertontonkan secara luas melalui panggung hiburan, televisi dan sosial media. Keluarga di rumah telah dikondisikan dengan baik, tetapi kondisi di luar rumah justru lebih sering sebaliknya. Lingkungan pergaulan teman-teman sekolah, dan teman-teman lingkungan berada pada kutub yang berbeda dengan didikan orangtua di rumah.

Melihat fenomena-fenomena krisis moral saat ini tentu kita lihat bahwa pesantren-lah yang bisa menjadi solusi untuk itu. Di pesantren 24 jam para santri dikondisikan untuk berada selalu di suasana yang baik. Suasana belajar, suasana menghafal quran, suasana sholat berjamaah dan suasana positif lainnya.

Santri dibatasi untuk menonton televisi, tidak diperkenankan mengakses sosial media dan pergaulan yang baik hingga mereka mempunyai imunitas ketika mereka lulus dari pesantren. InsyaAllah Pesantren adalah Benteng Akhlaq generasi penerus bangsa ini kedepan.

Ingin anak-anak kita dibentengi dengan iman, ilmu dan amal sholeh. Ayo mondok!

Daftarkan putra putri anda, belajar bersama kami Pesantren Terpadu Insan Cita Serang yang diasuh oleh KH. Sudarman Ibnu Murtadho,Lc, dan Yayasannya dibawah Pembina oleh Dr.H. Jazuli Juwaini, Lc.,MA dan H.Tamsil Linrung.

Untuk Info lebih lanjut dapat menghubungi (Whatsapp)

http://bit.ly/mohoninfoicsakhwat

http://bit.ly/mohonInfoicsikhwan

#insancitaserangboardingschool

#pesantrenbentengakhlaq

#icspesantrenunggulan

#sekolahnyaparahafidz

Anasir Kesuksesan Pendidikan System Boarding atau Pesantren

Anasir Kesuksesan Pendidikan System Boarding atau Pesantren

Pesantren atau Boarding School sangat berbeda dengan system pendidikan biasa atau full day school. Ada banyak faktor yang mendukung suksesnya system Boarding School atau pesantren.

Namun, sebelum bicara faktor kesuksesan, perlu tahu lebih dahulu apa ukuran atau indikator dari kesuksesan system pendidikan. Ada yang bilang bahwa kesuksesan yang dimaksud adalah ketika lulusannya yang masuk sekolah negeri, atau masuk sekolah di luar negeri, atau hafal sekian juz, atau bisa ceramah agama, atau banyak prestasi dan lain sebagainya. Sebagai ukuran terbaik sebuah lembaga sukses atau tidak adalah visi dan misi dari lembaga tersebut. Sehingga output dibandingkan dengan visi misi, maka disitulah bisa dievaluasi, sukses atau tidaknya sebuah lembaga.

Dengan pengalaman hampir 2 tahun dan mengamati berbagai lembaga pendidikan boarding school atau pesantren, paling tidak ada 5 faktor yang menjadi penunjang utama.

Pertama: Lembaga Yang Kuat.

Yang dimaksud disini adalah lembaga yang mempunyai visi yang ingin dicapai, yang diejawantahkan dalam misi yang terukur.
Lembaga menjadi tempat perumusan kebijakan dan system operating prosedur (sop) yang ingin diterapkan. Keputusan strategis terkait arah dan kebijakan, ditelorkan dari lembaga yang menaunginya.

Kedua: Sumber Daya Insani Yang Mumpuni

Utamanya guru atau ustadz yang siap menerjemahkan visi misi lembaga. Guru yang penyabar, ulet dan siap menjadi teladan 24 jam bagi santrinya, disamping mempunyai kapasitas sesuai dengan disiplin ilmu, sangat diperlukan di pesantren. Karena tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Sehingga perlu diluruskan, istilah tahun pelajaran. Kita punya Menteri Pendidikan. Kita punya Hari Pendidikan, tapi masih pakai Tahun Pelajaran bukan Tahun Pendidikan.

Orang bisa sukses mengajar, tapi belum tentu sukses mendidik. Karena itu dibutuhkan guru atau ustadz pesantren yang siap selama 24 jam, mendidik dan mengawasi para santrinya.

Bila gurunya kreatif, kurangnya sarana dan prasarana menjadi tantangan tersendiri untuk mencipta sesuai dengan sarana yang ada. Hasilnya bisa jauh lebih baik dibandingkan dengan sarana yang tersedia melalui pabrikan.

Sumber daya insani, juga mengambil peranan penting dalam menjaga lingkungan pesantren tetap kondusif. Suasana menghafal, club bahasa, ekstra kurikuler, karya ilmiah, sholat berjamaah, bangun malam, dan sebagainya, peranan ustadz musyrif atau wali asrama, sangat diperlukan.

Ketiga: Kurikulum Yang Terukur

Kurikulum menjadi penting karena proses ada disini. Kalau dibandingkan antara 2 hasil yang sama, tetapi dengan perjuangan yang berbeda, maka nilai yang tertanam dalam santri atau siswa pun berbeda. Tentu hasil dengan usaha yang lebih keras, akan membawa kepuasan tersendiri.

Bicara kurikulum adalah masalah konten atau isi dari proses belajar mengajar. Boleh jadi judul sama tapi muatannya berbeda, maka akan menghasilkan pemahaman yang berbeda. Sehingga sangatlah wajar bila melihat hasil dari sebuah alumni, langsung tertuju dengan kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut. Misalnya alumni pesantren A mahir di robotic, alumni sekolah B fahamnya lebih toleran, alumni pesantren C menganut mazhab bla bla bla, dan lain sebagainya.

Begitu juga bila terjadi kasus, terutama menyangkut akhlak, biasanya orang menghubungkan dari sebuah alumni. Kadang untuk pembenaran atas premis yang sudah tertanam di benak masyarakat. Walaupun sebenarnya tidaklah tepat. Misalnya Si A tertangkap KPK karena korupsi. “Oo pantas alumni sekolah X sih.. ” begitu seloroh masyarakat.

Keempat: Input Santri Yang Baik

Yang dimaksud input santri disini adalah semakin banyak santri yang diterima, semakin mudah sekolah itu untuk merealisasikan visi misinya. Semakin banyak peminat atas sekolah, maka akan semakin mudah memilih untuk mendekatkan input yang tersedia dengan tujuan visi misinya. Dengan demikian, secara logika grafik pesantren yang sudah maju akan semakin melesat dengan prestasi nya. Sementara dengan pesantren baru, harus bertahan untuk eksis.

Berdasarkan informasi diterima terdapat sebuah pesantren yang telah melakukan seleksi, perbandingan antara kuota yang tersedia dengan peminat 1 : 60. Dengan demikian, pesantren dapat menyaring yang terbaik diantara 60 anak peminat.

Bila ada lembaga baru dengan santri yang sedikit, tetapi mempunyai prestasi yang menyamai dengan lembaga yang sudah lama eksis, merupakan bentuk kesuksesan yang luar biasa.

Kelima: Sarana Penunjang Yang Memadai

Faktor yang lain yang turut mensukseskan pendidikan system pesantren atau boarding adalah sarana infrastruktur seperti yg ruang kelas, kantor, asrama dan sarana penunjang lainnya seperti laboratorium, tempat olah raga, perpustakaan, dapur, kantin dan lain-lain.

Di pesantren, santri untuk keluar sangat dibatasi, maka hobi sebisa mungkin agar dapat terfasilitasi di dalam pesantren agar mudah pengawasannya.

Wallahu a’lam.

KH Sudarman Ibnu Murtadho , Lc
Pengasuh Pesantren Terpadu Insan Cita Serang

PONDASI PARA GURU BESAR

PONDASI PARA GURU BESAR

Seorang pemuda ingin mempelajari seni bela diri dengan pedang. Ia mendaki sebuah gunung tinggi di Cina untuk memohon petunjuk dari seorang guru pedang tua yang telah pensiun dan menjalani tahun tahun terakhir hidupnya di atas gunung. Setelah perbincangan yang panjang, sang guru akhirnya setuju untuk mengajar sang pemuda. 

Sejak dari awal, sang guru terus membuat pemuda itu sibuk membelah kayu, berkebun, memasak, mencuci, menimba air dari sumur, dan melakukan tugas-tugas harian lainnya yang sejenis. Hari – hari dan minggu minggu berlalu, dan sang guru masih saja tidak mengatakan apa-apa mengenai ilmu bermain pedang.

Akhirnya, sang murid yang sudah lelah menjadi pembantu gurunya dan tidak belajar apa – apa tentang seni pedang. Ia-pun mendekati gurunya dan bertanya mengenai pengajaran seni pedang yang semula menjadi tujuan kedatangannya. Sang guru mendengarkan dan meminta muridnya kembali ke kegiatan rutin hariannya.

Sementara sang pemuda sedang memasak nasi, sang guru tiba – tiba muncul dibelakangnya, menyerangnya dengan pedang kayu, kemudian menghilang dengan cepat tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sang murid sudah sedang menyapu lantai ketika tiba tiba, persis saat ia begitu terserap dengan tugasnya dan tidak menduga sama sekali, gurunya muncul kembali di belakangnya, memukulnya dengan pedang kayu dan secepat kilat menghilang.

Hal ini berlangsung sepanjang hari, setiap hari. Tak peduli apa yang sedang dilakukan pemuda itu. Ia tidak pernah bisa beristirahat karena gurunya akan muncul lagi kapan saja dengan pedang kayunya.

Waktu terus berlalu dan akhirnya sang pemuda telah mengembangkan keterampilan menangkap dan menghentikan sang guru, dari mana pun arah kedatangannya.

Sang pemuda menyadari, ia telah mempelajari sesuatu yang berharga dan ingin belajar lebih jauh. Maka suatu pagi, ketika ia perhatikan gurunya sedang sibuk memasak sayuran, ia memungut sebuah tongkat besar dan melakukan apa yang biasa dilakukan sang guru kepadanya. Ia tiba – tiba muncul di belakang gurunya dan mengayunkan tongkat itu ke depan untuk menyerang sang guru. Dalam sekejap, sang guru meraih tutup periuk, memutar badan dan menggunakan tutup itu untuk menangkis ujung tongkat.

Sang pemuda pun membungkuk hormat pada gurunya dan bertanya, “ Guru, sudikah kiranya Guru memberitahu kebijaksanaan dari pelajaran-pelajaranku?” Sang guru menjawab, “ Kesadaran.”

“Apa maksudnya itu?” tanya pemuda itu,

Sang guru kembali menjawab, “ Ketika aku memintamu melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, itu sebenarnya membantumu agar sadar bahwa ada sesuatu yang perlu kau ubah. Ketika aku tiba-tiba menyerangmu dengan pedang kayu, kau mengembangkan kekuatan antisipasi hingga ke titik dari mana pun aku datang kau akan selalu bisa mengetahuinya dan menghentikanku. Kau jadi sadar sepenuhnya akan situasi di sekelilingmu hingga pada titik menumbuhkan keberanian, dan keberanianmu – ya, kau mengembangkannya sendiri. Kau memutuskan untuk menyerangku dan kau bisa perhatikan betapa cepat pula aku menghentikanmu.

Demikianlah, Anak Muda, kau telah belajar pondasi para guru besar

*KEKUATAN KESADARAN.”*

كِتاَبٌ أَنْزَلْناَهُ إِلَيكَ مُبارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيـَاتِهِ وَ لِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْباَبِ

“Sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu sebagai sumber-kebaikan agar mereka merenungkan tanda-tanda [nyata]-Nya dan agar orang-orang berakal menjadi sadar.”

(QS. Shad [38]: 29)

Bagaimana dengan kesadaran beragama kita? Putra dan putri kita tercinta sudahkah menyadari siapa dirinya? Ingin menjadikan diri kita dan mereka yang kita cintai menjadi insan yang tumbuh penuh kesadaran siapa dirinya di dunia dan akhirat ini ?

Daftarkan putra putri anda, belajar bersama kami INSAN CITA SERANG (ICS) ISLAMIC BOARDING SCHOOL pimpinan KH Sudarman Ibnu Murtadho, Lc., Pembina Yayasan Dr.KH.Jazuli Juwaini, Lc., MA., dan H. Tamsil Linrung

Hubungi whatssapp

http://bit.ly/mohoninfoicsakhwat

http://bit.ly/mohonInfoicsikhwan

#insancitaserangboardingschool

#kesadaranfull

#sekolahnyaparahafidz

Mohon bantuan untuk di-viral-kan, jika berkenan. Jazakumullah Khair

SERUNYA BACAKAN WALI SANTRI ICS

SERUNYA BACAKAN WALI SANTRI ICS

Silaturrahim dan Pertemuan Persatuan Orang Tua Santri (POS) Pesantren Terpadu Insan Cita Serang pada hari Selasa (20/11/2018) yang bertempat di Masjid Al-Iman Pesantren ICS, Jl. Raya Gunungsari KM.18, Kp. Cikundur RT/RW.03/03, Desa Gunungsari, Kec. Gunungsari, Kab. Serang – Banten, berlangsung seru dan hangat.

Acara yang berlangsung dari pukul. 09.30 Wib ini diakhiri dengan bacakan bersama para wali santri ICS setelah Shalat Dhuhur berjamaah. Ibu – Ibu berkumpul di pelataran Masjid dan Bapak – Bapak di dalam Masjid.

Biasanya para orangtua/ wali santri melihat pemandangan para santri yang bacakan, makan bersama dalam satu nampan ba’da kajian subuh pagi di pelataran masjid Al-Iman ICS, Nah sekarang para orangtua/ wali santri yang merasakan seru dan lezatnya makan bersama dalam satu nampan.

Satu nampan yang berisi makanan dikelilingi oleh 4 orang yang makan bersama, dibuat berjejer agar terasa kebersamaan dalam keluarga besar ICS ini. Para Orangtua/wali santri tanpa canggung menyantap makanan ala pesantren yang sederhana. Sayur Urap, Goreng ikan, Goreng ayam, tempe, sayur pare dan timur disusun cantik menggoda untuk dihabiskan

Cengkerama sebuah keluarga besar pun berlangsung hangat dan seru. Canda, tawa, senyum keceriaan menambah nikmatnya bacakan orangtua/wali santri ICS ini.

Semoga Allah SWT senantiasa mengokohkan hubungan baik antara Pesantren dan para orangtua/wali santri ini. Aamiin. (fby)

Dokumentasi kegiatan

WhatsApp chat