Mayoritas Wali Santri Menginginkan Kembali ke Pesantren

Mayoritas Wali Santri Menginginkan Kembali ke Pesantren

Hits: 28

Berdasarkan polling wali santri yang diinisiasi oleh Komite Sekolah SMPIT /SMAIT Insan Cita Serang (ICS) yang dilakukan pada tanggal 5-10 Juli 2020, menunjukkan bahwa 79% menghendaki santri belajar di Pesantren. Sedangkan 21% sisanya tidak setuju kembali ke pesantren.

Menurut Ketua Komite Sekolah ICS, Muhlisin Sidik menjelaskan bahwa jajak pendapat berupa polling online melalui google form merupakan respon atas surat edaran manajemen Insan Cita Serang Boarding School bahwa masuk pesantren mulai bulan Agustus 2020, dengan menerapkan protokol kesehatan yang standar.

Sampai dengan polling ditutup, dari 82 wali santri yang berpartisipasi, terdapat 65 wali santri atau 79% menginginkan santri segera kembali ke pesantren. Sedangkan sisanya 21% tidak setuju kembali ke pesantren selama pandemi covid-19 belum redah.

Diantara wali santri, bahkan ada yang menyampaikan secara verbal kepada Ibu Uswah, Pengasuh santri akhwat. Sebut saja Umi A, beliau menginginkan agar diizinkan anaknya bisa ke pesantren lebih awal jika pilihan dalam polling, berbeda dengan pilihan wali santri pada umumnya.

Berdasarkan surat edaran Pesantren Terpadu ICS nomor 01/422/SMPIT-SMAIT/ICS/VII/2020 tanggal 2 Juli 2020, menyebutkan bahwa kedatangan santri baru kelas 7 dan kelas 10 pada tanggal 3 Agustus 2020, dan santri lama kelas 8, 9, 11 dan kelas 12 pada tanggal 2 Agustus 2020.

Dalam edaran tersebut santri dan wali santri diminta mempersiapkan dengan baik sesuai protokol kesehatan yang berlaku. Mulai dari karantina mandiri, rapid tes, cara berkendara, jaga jarak, perlengkapan, drop santri dan lain-lainnya yang harus dipatuhi santri dan wali santri.

Masih pada edaran yang sama, disampaikan bahwa pemberitahuan kedatangan santri dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi terakhir. Artinya selama tidak ada ralat surat edaran, maka santri dan wali santri diminta mempersiapkan dengan sebaiknya untuk kembali ke pesantren.

Sekalipun santri datang bulan agustus 2020, namun tahun ajaran baru 2020/2021 tetap dimulai pada tanggal 13 Juli 2020, dengan agenda ma’ruf (masa taaruf) bagi santri baru secara daring. Sedangkan tanggal 14 sd 30 Juli santri sudah aktif belajar secara online sambil karantina mandiri.

Untuk suksesnya belajar di masa pandemi dengan kembali ke pesantren perlu kerja sama yang baik antara santri, wali santri dan pihak pesantren (khususnya para asatidz). Karena virus corona ini benda yang tidak terlihat. Tidak boleh diremehkan, juga jangan sampai berlebihan dalam menyikapinya. Kita diminta untuk berikhtiar sesuai protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Selebihnya kita memohon kepada Allah agar senantiasa dijauhkan dari penyakit ini. Demikian dipesankan Kiai Sudarman, Pengasuh Pesantren ICS.

Ada hal menarik dari peristiwa pandemi ini. Paling tidak ada aktivitas yang melekat, yang menjadi kebiasaan yang baik bagi kita, walaupun bagi santri adalah hal yang sudah biasa. Yaitu pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak.

Ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari kebiasaan baru di masa pandemi ini. Memakai masker. Hikmah yang bisa kita ambil adalah bahwa kita harus senantiasa menjaga mulut dan hidung kita. Bukan hanya melindungi dari virus dan debu, tapi juga mengajak kita untuk sedikit bicara banyak kerja, sedikit makan banyak belajar, walaupun santri sudah biasa dengan puasa. Masker juga sebagai cara berlindung dari mata jahil atau ghuddul bashar.

Mencuci tangan. Hikmah yang bisa kita ambil dari mencuci tangan adalah mengajarkan agar kita senantiasa bersih dan suci. Bagi anak santri harusnya sudah biasa dengan berwudhu ketika batal. Dan wudhu ini lebih dari sekedar cuci tangan. Bersih fisik, bersih hati, bahkan bersih dari dosa.

Jaga jarak. Hikmah yang bisa diambil dari jaga jarak adalah kita diajarkan untuk tidak sembarangan mendekat bahkan menyentuh. Apalagi sesama lain jenis yang bukan mahrom. hbb

Hits: 0

Jangan sampai ketinggalan untuk ikut dalam agenda Open Day Care ini ya!
“Jalin Silaturahmi, Gali Potensi dan Pacu Prestasi”

Segera daftarkan dirimu dan sekolah kamu, dan jadi bagian seru dalam acara Silaturahmi Generasi Islami, Cerdas dan Santun 🎉
.
Free Biaya registrasi
Tunggu apa lagi, yuk langsung daftar
*Pertanyaan dan Pendaftaran dapat dilakukan dengan menghubungi
Ummi Kulsum 087783937766
.
Islami Cerdas Santun!
Open Day Care 2020

APA ITU PESANTREN TERPADU ?

APA ITU PESANTREN TERPADU ?

Hits: 11

Mungkin ada yang bertanya-tanya ketika membaca nama Pesantren Terpadu Insan Cita Serang (ICS). Apa maksud dari Pesantren Terpadu itu? Apalagi pada masa sekarang, yang  dikenal cuma 2 istilah Pesantren Salafiyah dan Pesantren Modern.

Pesantren Salafiyah lebih identik dengan Pesantren yang hanya mengajarkan pendidikan agama saja dengan pola pengajaran dan pengelolaan tradisional. sedangkan Istilah Pesantren Modern dilekatkan pada pesantren yang menggunakan sistem pengajaran pendidikan umum (Matematika, Fisika dan lain – lain) tanpa meninggalkan Pendidikan agama. cuma porsi pendidikan agama memang lebih besar dibandingkan pendidikan umumnya.

Adapun pola pendidikan yang diterapkan dalam Pesantren Terpadu Insan Cita Serang (ICS) menggabungkan konsep Pesantren Salafiyah (tradisional) dan Konsep Pesantren Modern dengan basis tarbiyah. Kenapa ini diambil? Karena menurut Pengasuh Pesantren Terpadu Insan Cita Serang (ICS), KH. Sudarman Ibnu Murtadho, Lc., ikon pesantren itu kitab kuning dengan pengelolaan secara modern.

“Ikon-nya pesantren itu terdapat dalam kitab – kitab klasik Islam yang selama berpuluh tahun diajarkan di Pesantren. Sebuah Pesantren tanpa pembelajaran kitab – kitab klasik Islam ibarat Pesantren yang kehilangan ruh kepesantrenannya. Dibingkai dengan tarbiyah”.

Pesantren Terpadu berbasis tarbiyah dengan 10 target capaian santri

  1. Salimul Aqidah (Good Faith)
  2. Shohihul Ibadah (Right Devotion)
  3. Mantiqul Khuluq (Strong Character)
  4. Qowiyul Jismi (Physical Power)
  5. Mutsaqqoful Fikri (Thinking Brilliantly)
  6. Mujahatun Linafsihi (Continence)
  7. Haritsun ‘ala Waqtihi (Good Time Management)
  8. Munazhzhamun fi Syu’ unihi (Well Organized)
  9. Qodirun ‘alal Kasbi (Independent)
  10. Naafi’ un Lighoirihi (Giving Contribution)

KITAB KUNING

Sejak awal tumbuh dan berkembangnya Pesantren, Pembelajaran kitab – kitab klasik telah diterapkan sebagai usaha untuk mengokohkan tujuan utama pendidikan di Pesantren, membentuk kader ulama masa depan. Sehingga pembelajaran kitab – kitab klasik itu adalah bagian yang tak dapat dipisahkan satu sama lain.

Istilah kitab-kitab Islam klasik dalam dunia kepesantrenan, lebih dikenal dengan sebutan “kitab kuning”. Penyebutan istilah kemungkinan tersebut guna membatasi dengan tahun karangan kitab – kitab tersebut atau karena kertasnya yang berwarna kuning dulu.

Kitab-kitab kuning ini biasanya diajarkan oleh pengasuh pondok (Kyai) atau ustadz. Adapun kitab-kitab kuning yang diajarkan di Pesantren biasanya yaitu: (1) Nahwu (syntax) dan Sharaf (morfologi), (2) Fiqih (hukum), (3) Ushul Fiqh (yurispundensi), (4) Hadits, (5) Tafsir, (6) Tauhid (theologi), (7) Tasawuf dan Etika, (8) Cabang-cabang lain seperti Tarikh (sejarah) dan Balaghah. Kitab tersebut diajarkan secara berjenjang sesuai kemampuan para santri.

AYO MONDOK DI ICS

Ayo daftarkan putra-putri anda, belajar bersama kami Pesantren Terpadu Insan Cita Serang (ICS), Info hubungi (Whatsapp):

http://bit.ly/mohoninfoicsakhwat

http://bit.ly/mohonInfoicsikhwan

 

Diolah dari berbagai sumber

Apa Itu Thifan Tsufuk, Beladiri Wajib Santri ICS?

Apa Itu Thifan Tsufuk, Beladiri Wajib Santri ICS?

Hits: 1618

Di Pesantren Terpadu Insan Cita Serang (ICS) Banten, ada beberapa ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh santri ICS. Salah satunya adalah Beladiri Keluarga Muslim Thifan Tsufuk. Mungkin ada yang bertanya-tanya apa itu Beladiri Keluarga Muslim Thifan Tsufuk ini, baik berikut kami paparkan sejarah dan beberapa hal terkait Beladiri Keluarga Muslim Thifan Tsufuk.

SEJARAH THIFAN

Beladiri Thifan Tsufuk yang dipelajari di ICS merupakan salah satu aliran Thifan Po Khan. Bela diri Thifan Po Khan sendiri merupakan hasil perpaduan beragam aliran bela diri suku-suku Muslim di dataran Saldsyuk (Seljuk) sampai dataran Cina. Saat Islam mulai menyebar ke kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur, kaum Muslimin di kawasan ini terus memegang wasiat Rasulullah itu, mempelajari bela diri yang sesuai dengan kebiasaan dan keahlian masyarakat setempat.

Tersebutlah seorang bangsawan Suku Tayli bernama Je’nan, menghimpun berbagai ilmu bela diri yang ada di dataran Saldsyuk hingga dataran Cina. Bersama dengan pendekar muslim lain, yang memiliki keahlian gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk, silat Kittan, Tayli, mereka membentuk sebuah aliran bernama Shurul Khan.

Dari Shurul Khan inilah terbentuk aliran Naimanka, Kraiddsyu, Suyi, Syirugrul, Namsuit, Bahroiy, Tae Fatan, Orluq serta Payuq. Kesembilan aliran ini kemudian digubah, ditambah, ditempa, dialurkan, dipilah, dan diteliti, sampai akhirnya menjadi cikal bakal munculnya Thifan Po Khan.

Pada abad ke-16, Thifan Po Khan sudah dikenal di Indonesia. Saat itu, Raja Kerajaan Lamuri, Sultan Malik Muzafar Syah, mendatangkan para pelatih Thifan dari Turki Timur. Para pelatih itu kemudian disebarkan ke kalangan bangsawan di Sumatera.

Pada abad ke-18, Tuanku Rao dan kawan-kawannya mengembangkan Thifan ke daerah Tapanuli Selatan dan Minang. Selanjutnya bela diri Thifan tersebar ke Sumatera bagian timur dan Riau, yang berpusat di Batang Uyun/Merbau. Tuanku Haji atau Hang Udin juga membawa Thifan ke daerah Betawi dan sekitarnya.

Masuknya Thifan ke Jawa juga merupakan andil orang-orang Tartar yang berdagang ke pulau Jawa. Sambil menjajakan kain, mereka turut serta memperkenalkan Thifan pada masayarakat Jawa. Sedangkan di luar Jawa, Thifan disebarkan para pendekar yang berpetualang ke sana. Mereka bahkan sampai di Malaysia dan Thailand Selatan

PRINSIP-PRINSIP DALAM THIFAN:

Ada beberapa prinsip yang harus dimiliki oleh tamid yang belajar Thifan. Prinsip-prinsip tersebut sesuai dengan syariat Islam. Prinsip tersebut antara lain:

  • Tidak menyekutukan Allah, tidak percaya pada takhayul, khurafat dan tidak berbuat bid’ah dalam syara.
  • Berusaha amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat kebajikan dan melarang berbuat kemungkaran).
  • Bertindak teliti dan tekun mencari ilmu.
  • Tidak menganut asas ashobiah (kesukuan, kelompok).
  • Tidak menggunakan lambang-lambang, upacara-upacara, dan penghormatan-penghormatan yang menyalahi syara.

SYARAT BELAJAR THIFAN

Pada awalnya, syarat belajar Thifan itu harus bangsawan keluarga muslim. Tetapi saat ini tidak seperti itu lagi. Tetapi tetap ada syarat yang tidak boleh dilanggar yaitu “harus beragama islam”. Kenapa harus muslim? Karena ini sesuai dengan petuah/pesan para Pendekar pada masa lalu yang berbunyi “Bahwa ilmu ini di wakafkan/ diberikan cuma- cuma untuk umat islam dan untuk membela islam”.

Semoga Santri ICS bisa Kuat Imannya, Kuat Hafalannya, Kuat memegang prinsip, kuat adabnya dan kuat fisiknya untuk kejayaan Islam di masa yang akan datang.

Source :

 

Pesantren Benteng Akhlaq Anak Bangsa

Pesantren Benteng Akhlaq Anak Bangsa

Hits: 2103

Kita sempat dikejutkan oleh penganiayaan berujung maut yang dilakukan seorang murid SMAN 1 Torjun, HI (17) kepada gurunya, Ahmad Budi Cahyono (26) di sampang Madura Jawa Timur. Korban yang harus meregang nyawa di tangan muridnya sendiri, kamis (1/2/2018). Sebelumnya pada tanggal 22 Agustus 2016 ada seorang guru olah raga sekolah swasta di Bandung yang diduga kuat dibunuh oleh orang tua siswa. Korban tewas setelah di pukuli dan ditusuk di bagian perutnya. (Dikutip dari http://poskotanews.com/2016/08/22/penusuk-guru-hingga-tewas-diduga-orangtua-murid/)

Mendengar berita itu tentu membuat para guru se-Indonesia turut bersedih. Begitu juga dengan para orang tua, mereka sedih dan khawatir kalau saja anak-anaknya menjadi seperti itu. Tentu hal ini bukan hal yang mustahil terjadi saat ini. Di tengah krisis moral anak bangsa yang semakin meluas dimana-mana.

Pergaulan bebas dipertontonkan secara luas melalui panggung hiburan, televisi dan sosial media. Keluarga di rumah telah dikondisikan dengan baik, tetapi kondisi di luar rumah justru lebih sering sebaliknya. Lingkungan pergaulan teman-teman sekolah, dan teman-teman lingkungan berada pada kutub yang berbeda dengan didikan orangtua di rumah.

Melihat fenomena-fenomena krisis moral saat ini tentu kita lihat bahwa pesantren-lah yang bisa menjadi solusi untuk itu. Di pesantren 24 jam para santri dikondisikan untuk berada selalu di suasana yang baik. Suasana belajar, suasana menghafal quran, suasana sholat berjamaah dan suasana positif lainnya.

Santri dibatasi untuk menonton televisi, tidak diperkenankan mengakses sosial media dan pergaulan yang baik hingga mereka mempunyai imunitas ketika mereka lulus dari pesantren. InsyaAllah Pesantren adalah Benteng Akhlaq generasi penerus bangsa ini kedepan.

Ingin anak-anak kita dibentengi dengan iman, ilmu dan amal sholeh. Ayo mondok!

Daftarkan putra putri anda, belajar bersama kami Pesantren Terpadu Insan Cita Serang yang diasuh oleh KH. Sudarman Ibnu Murtadho,Lc, dan Yayasannya dibawah Pembina oleh Dr.H. Jazuli Juwaini, Lc.,MA dan H.Tamsil Linrung.

Untuk Info lebih lanjut dapat menghubungi (Whatsapp)

http://bit.ly/mohoninfoicsakhwat

http://bit.ly/mohonInfoicsikhwan

#insancitaserangboardingschool

#pesantrenbentengakhlaq

#icspesantrenunggulan

#sekolahnyaparahafidz

Anasir Kesuksesan Pendidikan System Boarding atau Pesantren

Anasir Kesuksesan Pendidikan System Boarding atau Pesantren

Hits: 5589

Pesantren atau Boarding School sangat berbeda dengan system pendidikan biasa atau full day school. Ada banyak faktor yang mendukung suksesnya system Boarding School atau pesantren.

Namun, sebelum bicara faktor kesuksesan, perlu tahu lebih dahulu apa ukuran atau indikator dari kesuksesan system pendidikan. Ada yang bilang bahwa kesuksesan yang dimaksud adalah ketika lulusannya yang masuk sekolah negeri, atau masuk sekolah di luar negeri, atau hafal sekian juz, atau bisa ceramah agama, atau banyak prestasi dan lain sebagainya. Sebagai ukuran terbaik sebuah lembaga sukses atau tidak adalah visi dan misi dari lembaga tersebut. Sehingga output dibandingkan dengan visi misi, maka disitulah bisa dievaluasi, sukses atau tidaknya sebuah lembaga.

Dengan pengalaman hampir 2 tahun dan mengamati berbagai lembaga pendidikan boarding school atau pesantren, paling tidak ada 5 faktor yang menjadi penunjang utama.

Pertama: Lembaga Yang Kuat.

Yang dimaksud disini adalah lembaga yang mempunyai visi yang ingin dicapai, yang diejawantahkan dalam misi yang terukur.
Lembaga menjadi tempat perumusan kebijakan dan system operating prosedur (sop) yang ingin diterapkan. Keputusan strategis terkait arah dan kebijakan, ditelorkan dari lembaga yang menaunginya.

Kedua: Sumber Daya Insani Yang Mumpuni

Utamanya guru atau ustadz yang siap menerjemahkan visi misi lembaga. Guru yang penyabar, ulet dan siap menjadi teladan 24 jam bagi santrinya, disamping mempunyai kapasitas sesuai dengan disiplin ilmu, sangat diperlukan di pesantren. Karena tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Sehingga perlu diluruskan, istilah tahun pelajaran. Kita punya Menteri Pendidikan. Kita punya Hari Pendidikan, tapi masih pakai Tahun Pelajaran bukan Tahun Pendidikan.

Orang bisa sukses mengajar, tapi belum tentu sukses mendidik. Karena itu dibutuhkan guru atau ustadz pesantren yang siap selama 24 jam, mendidik dan mengawasi para santrinya.

Bila gurunya kreatif, kurangnya sarana dan prasarana menjadi tantangan tersendiri untuk mencipta sesuai dengan sarana yang ada. Hasilnya bisa jauh lebih baik dibandingkan dengan sarana yang tersedia melalui pabrikan.

Sumber daya insani, juga mengambil peranan penting dalam menjaga lingkungan pesantren tetap kondusif. Suasana menghafal, club bahasa, ekstra kurikuler, karya ilmiah, sholat berjamaah, bangun malam, dan sebagainya, peranan ustadz musyrif atau wali asrama, sangat diperlukan.

Ketiga: Kurikulum Yang Terukur

Kurikulum menjadi penting karena proses ada disini. Kalau dibandingkan antara 2 hasil yang sama, tetapi dengan perjuangan yang berbeda, maka nilai yang tertanam dalam santri atau siswa pun berbeda. Tentu hasil dengan usaha yang lebih keras, akan membawa kepuasan tersendiri.

Bicara kurikulum adalah masalah konten atau isi dari proses belajar mengajar. Boleh jadi judul sama tapi muatannya berbeda, maka akan menghasilkan pemahaman yang berbeda. Sehingga sangatlah wajar bila melihat hasil dari sebuah alumni, langsung tertuju dengan kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut. Misalnya alumni pesantren A mahir di robotic, alumni sekolah B fahamnya lebih toleran, alumni pesantren C menganut mazhab bla bla bla, dan lain sebagainya.

Begitu juga bila terjadi kasus, terutama menyangkut akhlak, biasanya orang menghubungkan dari sebuah alumni. Kadang untuk pembenaran atas premis yang sudah tertanam di benak masyarakat. Walaupun sebenarnya tidaklah tepat. Misalnya Si A tertangkap KPK karena korupsi. “Oo pantas alumni sekolah X sih.. ” begitu seloroh masyarakat.

Keempat: Input Santri Yang Baik

Yang dimaksud input santri disini adalah semakin banyak santri yang diterima, semakin mudah sekolah itu untuk merealisasikan visi misinya. Semakin banyak peminat atas sekolah, maka akan semakin mudah memilih untuk mendekatkan input yang tersedia dengan tujuan visi misinya. Dengan demikian, secara logika grafik pesantren yang sudah maju akan semakin melesat dengan prestasi nya. Sementara dengan pesantren baru, harus bertahan untuk eksis.

Berdasarkan informasi diterima terdapat sebuah pesantren yang telah melakukan seleksi, perbandingan antara kuota yang tersedia dengan peminat 1 : 60. Dengan demikian, pesantren dapat menyaring yang terbaik diantara 60 anak peminat.

Bila ada lembaga baru dengan santri yang sedikit, tetapi mempunyai prestasi yang menyamai dengan lembaga yang sudah lama eksis, merupakan bentuk kesuksesan yang luar biasa.

Kelima: Sarana Penunjang Yang Memadai

Faktor yang lain yang turut mensukseskan pendidikan system pesantren atau boarding adalah sarana infrastruktur seperti yg ruang kelas, kantor, asrama dan sarana penunjang lainnya seperti laboratorium, tempat olah raga, perpustakaan, dapur, kantin dan lain-lain.

Di pesantren, santri untuk keluar sangat dibatasi, maka hobi sebisa mungkin agar dapat terfasilitasi di dalam pesantren agar mudah pengawasannya.

Wallahu a’lam.

KH Sudarman Ibnu Murtadho , Lc
Pengasuh Pesantren Terpadu Insan Cita Serang

WhatsApp chat