Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka Allah akan mempercepat hukumannya di dunia, jika Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba maka Allah akan tunda hukuman dosa-dosanya di dunia dan akan menghukumnya di akhirat.” (HR. At Tirmidzi no 2396, Shahih Sunan At Tirmidzi)

Pada dasarnya Allah Subhanallahu Wata’ala selalu menghendaki kebaikan pada diri hambanya, terlebih hamba-Nya yang beriman dengan benar. Cuma masalahnya berada hamba-Nya itu sendiri, mau atau tidak hamba tersebut mendapatkan kebaikan Allah Subhanallahu Wata’ala atau tidak.

Seorang muslim yang benar itu Unik, tidak ada yang lebih unik dari ini. Muslim yang benar itu kalau mendapat nikmat dia bersyukur dengan sebenar-benarnya syukur. Syukur yang diucapkan secara lisan, diyakini di dalam hati dan dengan syukur itu dibuktikan dengan amalan fisik yang membuat seorang muslim bertambah keimanannya kepada Allah Subhanallahu Wata’ala.

Seorang muslim yang benar akan bersikap sabar apabila mendapati ujian kesusahan, kesempitan dan musibah, yang dengan itu juga akan meningkatkan keimanan-nya kepada Allah Subhanallahu Wata’ala. Sambil terus menerus melakukan muhasabah (instrospeksi diri) apa yang menyebabkan ini bisa terjadi.

Perasaan khauf (takut) dan rodja (harap) juga hendaknya senantiasa meliputi hati seorang muslim. Berharap agar mendapatkan nikmat dan perlindungan dari Allah Subhanallahu Wata’ala. Juga perasaan takut, takut-takut kalau saja musibah yang menimpa adalah azab dari Allah Subhanallahu Wata’ala.

Atau kalau-pun mendapat nikmat juga membuatnya khawatir karena siapa tahu ini adalah nikmat yang Allah Subhanallahu Wata’ala di dunia dan tidak ada lagi balasan baginya di akhirat. Kan bisa saja itu istidraj, Allah subhanallahu Wata’ala berikan semua balasan kebaikan di dunia sehingga tidak menyisakan sedikitpun balasan kebaikan itu untuk nantinya di akhirat.

Allah subhanallahu Wata’ala berfirman : “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga bersabda: “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).

Jadi kalau kita mendapat musibah tetap Huznodzon-lah kepada Allah Subhanallahu Wata’ala, yakinlah itu yang terbaik. Apapun yang menimpa kita saat ini, meskipun itu buruk, kalau kita menjalani prosesnya dengan benar, maka kita akan berterima kasih dengan proses tersebut nantinya di akhirat.

Imam Ibn Qoyyim berkata: “Di antara bentuk rahmat dan kasih sayang Allah adalah Dia menimpakan kepadamu musibah dan bencana di dunia ini, agar engkau tidak merasa betah dan tentram di dalamnya sehingga engkau bersegera untuk menuju Surga yang penuh kedamaian dan ketentraman di dalamnya.” (Ighatsatul Lahfan halaman 174)

Oleh: Feby Arma Putra (Pendidik SMPIT Insan Cita Serang)

WhatsApp chat