Kunjungan SMAIT Insan Cita Serang ke Universitas Padjadjaran dan UIN Sunan Gunung Djati

Kunjungan SMAIT Insan Cita Serang ke Universitas Padjadjaran dan UIN Sunan Gunung Djati

Indahnya Silaturrahmi

Berkumpul dengan orang hebat, sholeh dan berilmu tentu menjadi berkah tersendiri, disamping banyak pelajaran dan ilmu yang bisa diserap, juga menjadi wasilah kebaikan untuk pribadi juga anak-anak SMAIT ICS.

Dalam rangka kunjungan dan silaturrahmi yang dilakukan pada 7 November 2022 lalu, SMAIT ICS menuai berkah dengan mengunjungi 2 perguruan tinggi negeri dalam satu waktu. Yaitu Universitas Padjadjaran pada Fakultas Pertanian dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Tidak hanya silaturrahmi dan penjajakan kerjasama dalam suksesi masuk perguruan tinggi saja. Namun justru disambut baik dengan tawaran kerjasama dalam banyak hal, termasuk peningkatan SDM, Penelitian dan lainnya.

Sambutan hangat yang diberikan Dr. Nono Carsono, S.P., M.Sc.,Ph.D. selaku Wakil Dekan 1 Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran beserta jajaran, menambah keyakinan kami bahwa silaturahmi adalah bentuk keindahan dalam proses kehidupan.

Motivasi dan semangat yang diberikan Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah. M.Ed selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menambah khazanah keilmuan dan serasa hati ini terbakar semangat agar segera bisa melanjutkan S3, “Gelar doktor itu bagaikan kunci, untuk membuka pintu-pintu kebaikan lainnya’ bukan gelarnya, namun isi/keilmuannyalah yang dimaksud kunci itu” hayu semangat S3, tambahnya. Ujar Nasrudin (Kepala SMAIT Insan Cita Serang)

Semoga silaturrahmi ini menemukan keindahannya pada saat ini, esok dan masa yang akan datang. Aamiin

Cegah HIV/AIDS, SMPIT-SMAIT Insan Cita Serang Adakan Penyuluhan Kesehatan

Cegah HIV/AIDS, SMPIT-SMAIT Insan Cita Serang Adakan Penyuluhan Kesehatan

Kesehatan adalah kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap dan bukan sekadar tidak adanya penyakit atau kelemahan. Pemahaman tentang kesehatan telah bergeser seiring dengan waktu. Terutama pada kalangan remaja usia 13-17 tahun. Masa remaja dalah masa mencari jati diri, terkadang denhan rasa ingin tahu yang tinggi para remaja mengabaikan beberapa aspek penting khususnya aspek kesehatan. Banyak remaja yang mengabaikan kesehatan dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang kurang sehat dan beberapa aktivitas lain yang bisa menimbulkan penyakit menular seperti HIV/AIDS. Pada usia tersebut harus memiliki wawasan tentang kesehatan terutama HIV/ AIDS, dengan memilik wawasan seputar HIV/AIDS menjadi modal awal untuk mencegahnya tertular penyakit tersebut.

Untuk memberikan wawasan dan pengetahuan terkait HIV/AIDS, SMPIT-SMAIT Insan Cita Serang bekerjasama dengan Puskesmas Gunungsari mengadakan penyuluhan kesehatan,

“Pada tanggal 10 November 2022 sekaligus memperingati hari pahlawan. Sekolah kami Pesantren Terpadu Insan Cita Serang kedatangan tim kesehatan puskesmas Gunungsari dan berkesempatan mendapatkan penyuluhan tentang HIV/AIDS, TBC paru dan penyakit tidak menular (PTM). Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap isu HIV-AIDS dan untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap pengidap HIV-AIDS.” Ujar ketua pelaksana kegiatan penyuluhan kesehatan, Nurhasabah.

Menjaga kesehatan merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim, sebagaimana sabda Rasulullah dalam suatu hadits yang berbunyi:
المؤ من القوى واحب الى الله من المؤ من الضعىف

Artinya:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.”

Maksud dari hadits di atas adalah badan yang kuat dan sehat juga diperlukan untuk beribadah dan melakukan ketaatan. Sehingga kita meniatkan membuat badan sehat adalah agar bisa melakukan ibadah, ketaatan dan berbagai kebaikan.

Merawat Luka dengan Cinta -tamat

Merawat Luka dengan Cinta -tamat

Oleh: Annida Nurul Hanifah

@lianhari

Dua minggu pun berlalu, masa isolasi telah selesai dan virus Covid-19 yang selama ini bermain di tubuhku pun kini sudah hilang. Namun, luka bekas jahitan itu masih dalam masa pemulihan. Dokter bilang proses penyembuhannya akan memakan waktu yang cukup lama karena pernah terjadi infeksi sebelumnya dan harus rutin dibersihkan sebanyak 3 kali sehari sampai benar-benar sembuh total. Kabar baiknya, aku sudah diperbolehkan rawat jalan dari rumah.

Selama di rumah, umilah yang menjadi dokter pribadiku. Umi merawatku dengan penuh kasih sayang dan ketelatenan, tak ada kata jijik bagi umi ketika harus merawat anaknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku berharap bisa membalas semua kebaikan umi meskipun aku tahu kasih sayang seorang ibu tak akan bisa dibalas oleh apapun. Perjuangan umi merawat lukaku dengan penuh cinta selama kurang lebih satu bulan ini akan terukir indah dalam kisah hidupku, mungkin kalau seandainya waktu itu ususku harus diganti maka umilah orang yang akan mendonorkan ususnya untukku. Hal yang paling kutakutkan saat sakit kemarin adalah kalau tiba-tiba aku tidak bisa memeluk umi lagi, aku takut umurku tak sampai di ujung usia umi. Selama sakit aku selalu merengek ingin pulang ke rumah padahal tanpa kusadari bahwa rumah yang sesungguhnya bagi seorang anak adalah ibunya sendiri.

***

Annida Nurul Hanifah, lahir di Serang 27 Februari 2009. Saat ini sedang menuntut ilmu di SMPIT Insan Cita Serang Islamic Boarding School dan mencoba untuk terus mempelajari ilmu-ilmu yang terhampar luas di bumi Allah Ini meskipun aku sedikit pemalas sih hehe Selain itu, sedang mencoba berbagi cerita lewat tulisan berharap ada setetes kebaikan yang dapat diambil dari kisah hidupku ini. Aku pernah bersekolah di SDS Peradaban Serang sebelum mondok di Insan Cita.

Merawat Luka dengan Cinta -tamat

Merawat Luka dengan Cinta -part 3

 

Oleh: Annida Nurul Hanifah

@lianhari

Tiga hari kemudian aku dibawa pulang ke rumah oleh umi karena aku terus merengek minta pulang, untungnya dokter mengizinkanku pulang asal selama di rumah aku diminta jangan dulu melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan sebelum jahitanku benar-benar kering. Rasanya senang sekali akhirnya aku tidak menyusahkan umi lagi, jadi umi bisa beristirahat sepuasnya di rumah.

Namun perjuangan umi ternyata masih belum berakhir. Baru dua hari aku pulang ke rumah perutku terasa perih dan sakit lagi, setelah diperiksa oleh umi ternyata di dalam jahitan perutku masih ada jaringan lunak yang terbuka hingga mengakibatkan infeksi. Umi langsung bergegas membawaku kembali ke rumah sakit untuk diperiksa secara intensif, setelah ditangani oleh dokter ternyata aku harus melakukan operasi ulang untuk membersihkan infeksi di perutku sekaligus menutup kembali jahitan-jahitan yang terbuka. Sebelum melakukan operasi, aku diminta untuk tes SWAB antigen terlebih dahulu. Namun, sayangnya hasil tesku positif Covid-19 sehingga dokter meminta untuk menunda melakukan operasi tersebut sampai 14 hari ke depan.

Umi memohon-mohon pada dokter dan pihak rumah sakit agar aku tetap bisa dioperasi tanpa harus menunggu dulu selama 14 hari, tapi jawaban mereka masih tetap sama seperti di awal tadi. Meskipun aku diberi obat pereda nyeri namun itu sifatnya hanya sementara, rasa sakit akibat infeksi dari jahitan yang terbuka itu akan kambuh lagi sewaktu-waktu.

Umi tak sanggup melihat aku terus-menerus kesakitan, akhirnya umi berjuang kesana kemari hanya untuk mencari rumah sakit yang bisa melakukan operasi bagi pasien positif Covid-19. Setelah sehari semalam bolak-balik mengelilingi Kota Serang, umi berhasil menemukan rumah sakit yang mau mengoperasiku tanpa harus menunggu selesai isolasi terlebih dulu.

Akhirnya, aku dioperasi dan dirawat lagi di rumah sakit yang berbeda dari sebelumnya. Tapi kali ini aku hanya sendirian di dalam kamar inap, tanpa ditemani oleh siapa pun termasuk umi. Ruangan yang kutempati itu semakin terasa hampa dan sunyi tanpa kehadirannya. Tapi meskipun tak boleh masuk umi rela menungguku di luar ruangan selama aku dirawat, padahal di luar sana hanya ada kursi keras yang terbuat dari besi. Aku berkomunkasi dengan umi via telepon yang disediakan pihak rumah sakit, umi selalu berusaha menghiburku agar aku tidak bosan di dalam ruangan ini sendirian.    

Merawat Luka dengan Cinta -tamat

Merawat Luka dengan Cinta -part 2

Oleh: Annida Nurul Hanifah

@lianhari

Anehnya air hujan yang tadi kulihat berjatuhan dari pelupuk mata umi tiba-tiba berubah menjadi senyuman manis namun menggetirkan, dengan suara bergetar umi menjelaskan bahwa aku terkena infeksi usus buntu dengan gejala berat yang mengharuskan adanya tindakan operasi agar aku bisa sehat kembali.

Umi menjelaskan semua itu sambil menahan air matanya dan berusaha agar tetap tenang di depanku, aku tahu betul umiku tak pernah ingin terlihat menyedihkan di depan anak-anaknya agar kami semua tumbuh menjadi anak yang kuat dan tak cengeng. Namun kali ini sorotan mata umi tak mampu membohongiku, ada kengerian dan ketakutan yang tersimpan di balik tatapan matanya.

Sejak kecil aku selalu takut mendengar kata operasi karena dalam bayanganku tubuh kita nanti akan disayat-sayat, dipotong, lalu dijahit kembali, tapi sekarang aku justru akan mengalaminya langsung. Aku tak bisa menahan tangisku, sambil memeluk umi dengan suara sesenggukan aku bilang kalau aku takut dan mau pulang saja. Namun umi menguatkanku dengan suara yang meneduhkan.

Waktu operasi pun tiba, aku dibawa oleh beberapa perawat berbaju hijau menuju ruang operasi. Sambil menyusuri lorong rumah sakit di sepanjang perjalanan umi memegangi tanganku dengan erat. Sesampainya di depan pintu ruang operasi, umi berbisik merdu di telingaku “Yang kuat yaa sayang, umi yakin kamu bisa sembuh. Jangan takut, umi di sini nemenin Nida” genggaman umi pun terlepas perlahan-lahan. Beberapa menit kemudian ruangan menjadi gelap gulita, sayup-sayup kudengar suara dokter dan perawat saling berbicara.

Dua jam kemudian aku tersadar dari obat bius yang membuatku tertidur lama tadi. Mataku melihat ke atap-atap langit, lalu menelusuri seluruh ruangan yang kutempati ini. Ruangan ini terasa asing, berbeda dari kamar inap yang kutempati sebelum operasi. Aku belum bisa bergerak banyak karena jahitan di perutku terasa sangat sakit saat tubuhku digerakkan.

Seseorang yang kucari-cari sedari tadi akhirnya kutemukan, umi tertidur tepat di samping ranjangku. Wajahnya terlihat sangat lelah dan menyedihkan, tanpa terasa mataku meneteskan air mata perlahan-lahan sambil mengingat betapa luar biasanya umi merawatku selama ini dari mulai makan, minum, mandi, dan seluruh aktivitas lainnya dibantu olehnya. Umi juga selalu berusaha menghiburku selama aku sakit supaya aku tidak tambah down. Tiba-tiba umi terbangun dari tidurnya yang tak nyenyak itu, mulutnya tak henti-henti mengucap syukur ketika melihatku sudah tersadar dari operasi sore tadi. Umi bilang aku anak yang hebat karena berhasil melewati operasi dengan selamat.

 

WhatsApp chat