Di Pesantren Terpadu Insan Cita Serang (ICS) Banten, ada beberapa ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh santri ICS. Salah satunya adalah Beladiri Keluarga Muslim Thifan Tsufuk. Mungkin ada yang bertanya-tanya apa itu Beladiri Keluarga Muslim Thifan Tsufuk ini, baik berikut kami paparkan sejarah dan beberapa hal terkait Beladiri Keluarga Muslim Thifan Tsufuk.

SEJARAH THIFAN

Beladiri Thifan Tsufuk yang dipelajari di ICS merupakan salah satu aliran Thifan Po Khan. Bela diri Thifan Po Khan sendiri merupakan hasil perpaduan beragam aliran bela diri suku-suku Muslim di dataran Saldsyuk (Seljuk) sampai dataran Cina. Saat Islam mulai menyebar ke kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur, kaum Muslimin di kawasan ini terus memegang wasiat Rasulullah itu, mempelajari bela diri yang sesuai dengan kebiasaan dan keahlian masyarakat setempat.

Tersebutlah seorang bangsawan Suku Tayli bernama Je’nan, menghimpun berbagai ilmu bela diri yang ada di dataran Saldsyuk hingga dataran Cina. Bersama dengan pendekar muslim lain, yang memiliki keahlian gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk, silat Kittan, Tayli, mereka membentuk sebuah aliran bernama Shurul Khan.

Dari Shurul Khan inilah terbentuk aliran Naimanka, Kraiddsyu, Suyi, Syirugrul, Namsuit, Bahroiy, Tae Fatan, Orluq serta Payuq. Kesembilan aliran ini kemudian digubah, ditambah, ditempa, dialurkan, dipilah, dan diteliti, sampai akhirnya menjadi cikal bakal munculnya Thifan Po Khan.

Pada abad ke-16, Thifan Po Khan sudah dikenal di Indonesia. Saat itu, Raja Kerajaan Lamuri, Sultan Malik Muzafar Syah, mendatangkan para pelatih Thifan dari Turki Timur. Para pelatih itu kemudian disebarkan ke kalangan bangsawan di Sumatera.

Pada abad ke-18, Tuanku Rao dan kawan-kawannya mengembangkan Thifan ke daerah Tapanuli Selatan dan Minang. Selanjutnya bela diri Thifan tersebar ke Sumatera bagian timur dan Riau, yang berpusat di Batang Uyun/Merbau. Tuanku Haji atau Hang Udin juga membawa Thifan ke daerah Betawi dan sekitarnya.

Masuknya Thifan ke Jawa juga merupakan andil orang-orang Tartar yang berdagang ke pulau Jawa. Sambil menjajakan kain, mereka turut serta memperkenalkan Thifan pada masayarakat Jawa. Sedangkan di luar Jawa, Thifan disebarkan para pendekar yang berpetualang ke sana. Mereka bahkan sampai di Malaysia dan Thailand Selatan

PRINSIP-PRINSIP DALAM THIFAN:

Ada beberapa prinsip yang harus dimiliki oleh tamid yang belajar Thifan. Prinsip-prinsip tersebut sesuai dengan syariat Islam. Prinsip tersebut antara lain:

  • Tidak menyekutukan Allah, tidak percaya pada takhayul, khurafat dan tidak berbuat bid’ah dalam syara.
  • Berusaha amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat kebajikan dan melarang berbuat kemungkaran).
  • Bertindak teliti dan tekun mencari ilmu.
  • Tidak menganut asas ashobiah (kesukuan, kelompok).
  • Tidak menggunakan lambang-lambang, upacara-upacara, dan penghormatan-penghormatan yang menyalahi syara.

SYARAT BELAJAR THIFAN

Pada awalnya, syarat belajar Thifan itu harus bangsawan keluarga muslim. Tetapi saat ini tidak seperti itu lagi. Tetapi tetap ada syarat yang tidak boleh dilanggar yaitu “harus beragama islam”. Kenapa harus muslim? Karena ini sesuai dengan petuah/pesan para Pendekar pada masa lalu yang berbunyi “Bahwa ilmu ini di wakafkan/ diberikan cuma- cuma untuk umat islam dan untuk membela islam”.

Semoga Santri ICS bisa Kuat Imannya, Kuat Hafalannya, Kuat memegang prinsip, kuat adabnya dan kuat fisiknya untuk kejayaan Islam di masa yang akan datang.

Source :

 

WhatsApp chat